Usut Tuntas Kasus Ferdi Sambo

NAMA : M Maulana AR

NIM     : 202010200311023

KELAS  : Agroteknologi A5

Kasus pembunuhan berencana yang dilakukan Irjen Ferdy Sambo, mantan Kadiv Propam Polri, terhadap ajudannya Brigadir J atau Yoshua Hutabarat menjadi perhatian publik hampir dua bulan belakangan. Kini proses hukum terus berjalan. Ferdy Sambo yang dulunya polisinya polisi sudah menjadi tersangka. Selain itu ada empat tersangka lainnya, yaitu Putri Chandrawati (istri Ferdy Sambo), Bharada Richard Eliezer atau Bharada E, Bripka Ricky Rizal atau Bripka R, dan Kuat Ma’ruf (sopir Ferdy Sambo). Kronologi kasus tewasnya Brigadir J mulai mencuat ketika Ferdy Sambo yang sebelumnya menjabat Kadiv Propam Polri membuat laporan ke Polres Metro Jakarta Selatan pada Jumat, 8 Juli 2022. Ferdy Sambo melaporkan adanya kontak tembak antara Brigadir J dengan Bharada E. Tembak-tembakan ini terjadi disebut karena Brigadir J melakukan pelecehan seksual terhadap Putri Chandrawati, istri Ferdy Sambo.  Ada dua laporan yang dibuat pihak Ferdy Sambo ke Polres Jakarta Selatan dengan terduga Brigadir J, yakni pelecehan terhadap Putri Chandrawati dan percobaan pembunuhan terhadap Bharada E. Adapun saksi dalam kejadian tembak-tembakan tersebut yaitu Kuat Ma’ruf, Bripka RR, dan Bharada E. Sementara jenazah Brigadir J dibawa ke RS Bhayangkara Polri tingkat satu. Lalu pada Senin, 11 Juli 2022, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan melakukan konferensi pers terkait dengan peristiwa meninggalnya Brigadir J. Materinya berasal dari Divisi Propam yang sudah direkayasa.

Di hari yang sama juga terdapat informasi terjadi permasalahan saat pengantaran jenazah kepada keluarga Brigadir J.  Seiring berjalannya waktu dan desakan publik yang curiga adanya rekayasa di kasus tewasnya Brigadir J, pada 12 Juli 2022. Tim khusus tersebut melakukan investigasi melibatkan Kompolnas dan Komnas HAM. Tugasnya yaitu mengungkap kasus tewasnya Brigadir J sesuai fakta, objektif, transparan, dan akuntabel. Di sisi lain, kuasa hukum Brigadir J melapor ke Polri adanya dugaan pembunuhan terhadap Brigadir J. Lalu pada Senin, 18 Juli 2022, Kapolri Jenderal Listyo Sigit menonaktifkan Ferdy Sambo dari jabatan Kadiv Propam Polri.  Adapun laporan pihak Ferdy Sambo tentang dugaan percobaan pembunuhan dan laporan terkait dugaan perbuatan pelecehan yang ditudingkan terhadap Brigadir J dilimpahkan ke Polda Metro Jaya pada Selasa, 19 Juli 2022. Menyusul, pada Rabu, 20 Juli 2022, Kapolri juga menonaktifkan Karo Paminal Polri dan Kapolres Metro Jakarta Selatan. Di hari yang sama, autopsi ulang terhadap jenazah Brigadir J dilakukan Tim Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI), didampingi Komnas HAM dan Kompolnas. Singkat cerita, fakta-fakta pun mulai terungkap, mulai dari adanya hambatan penyidikan seperti intimidasi, tekanan, intervensi, hingga menghilangkan barang bukti yang dilakukan beberapa anak buah Ferdy Sambo. Termasuk fakta CCTV di pos satpam diambil oknum personel Divisi Propam Polri dan Bareskrim Polri. Pada 3 Agustus 2022, Bharada E ditetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Lalu, pada 5 Agustus 2022, Bharada E membuat pengakuan berbeda dari sebelumnya. Bharada E mengungkap semua fakta, termasuk pembunuhan berencana yang didalangi Ferdy Sambo.    Pada 9 Agustus 2022, Kapolri mengumumkan penetapan tersangka terhadap Ferdy Sambo, Bripka Ricky Rizal atau Bripka R, dan Kuat Ma’ruf.Tak cukup sampai di situ, Polri juga menetapkan istri Ferdy Sambo yaitu Putri Chandrawati sebagai tersangka. Dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J, Ferdy Sambo sudah menjalani sidang komisi kode etik pada Kamis, 25 Agustus 2022. Rekonstruksi pembunuhan Brigadir J pun sudah digelar pada Selasa, 30 Agustus 2022. Saat ini proses hukum Ferdy Sambo cs atas pembunuhan berencana terhadap Brigadir J masih berlangsung.

Melanjutkan proses penegakan hukum kasus penembakan Brigadir J atau Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Irjen Ferdy Sambo selaku salah satu tersangka telah menjalani sidang kode etiknya sebagai anggota Polri. Terkait pelaksanaan sidang kode etik Ferdy Sambo, diketahui tepat sebelum sidang Ferdy Sambo sempat mengajukan surat pengunduran diri sebagai anggota Polri. Terkait pengajuan surat pengunduran diri tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjelaskan bahwa surat tersebut telah ditolak atau tidak berlaku. Penolakan tersebut dikarenakan ada aturan yang harus diikuti pada Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terkait kasus pidana yang menjerat Ferdy Sambo. “Tentu ada aturannya. Kita melihat bahwa ini harus diselesaikan dalam proses sidang KKEP dan kemarin sudah kita dengar bahwa putusan dari sidang, PDTH (pemberhentian tidak dengan hormat),” ucap Listyo Sigit Prabowo, dikutip Berita DIY dari ANTARA pada 28 Agustus 2022.Meskipun begitu Ferdy Sambo tetap diberikan hak untuk mengajukan banding terhadap putusan sidang, dirinya diberikan waktu tiga hari untuk menyampaikan banding secara tertulis. Namun dikabulkan atau tidaknya banding yang diajukan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjelaskan bahwa hal tersebut harus menunggu keputusan final. Sidang kode etik yang ditujukan kepada Ferdy Sambo sebagai salah satu lima tersangka telah dilaksanakan pada Kamis, 25 Agustus 2022.


Baca juga:

Sorry, you cant copy SERU.co.id!