Banyaknya Golongan LGBT Meminta Kebebasan Hak Orientasi Seksual yang Membawa Dampak Buruk bagi Masyarakat Indonesia

Nama : Sinta Margareta Ananda

NIM : 202010200311068

Kelas : 5C Agroteknologi

LGBT yaitu singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender yang merupakan sebuah kaum atau kelompok yang mendukung pergerakkan kebebasan orientasi dan identitas seksual dengan melambangkan bendera pelangi sebagai penanda bahwa mereka adalah salah satu dari bagiannya. Di Indonesia menjadi salah satu dari lima negara yang diprediksi dapat menjadi negara dengan sasaran fenomena LGBT terbanyak karena perkembangannya yang begitu pesat, akan tetapi Indonesia termasuk lima negara pula yang menolak hadirnya LGBT karena telah banyak membawa dampak buruk bagi masyarakat di Indonesia. Bagaimana tidak? Pada hari Jumat, 21 Mei 2021 RSUD  kota Padang Panjang memberikan keterangan bahwa dari sisi sosial, dampak yang dapat terjadi jika salah satu masyarakat Indonesia termasuk dari LGBT seperti beberapa dijauhi oleh keluarga, memiliki lingkungan pertemanan yang hanya itu-itu saja, beberapa lahan pekerjaan kurang menerima orang semacam ini, menjadikan haus akan pengakuan, gila akan kebutuhan materi, cenderung berganti pasangan, hubungan yang tidak direstui oleh pemerintah dan agama hingga menjadi atheis. Dari sisi sosial inilah yang menyebabkan munculnya dampak dari sisi kesehatan yang bisa menimbulkan penyakit seksual yang disebabkan gonta-ganti pasangan. 

LGBT sudah ada hingga saat ini dan telah menyebar sampai ke Indonesia. Pada tahun 1969, di Indonesia tepatnya di Jakarta terjadi gerakan LGBT dimulai dengan berdirinya sebuah organisasi trangender pertama yaitu Himpunan Wadam Djakarta. Wadam sendiri singkatan dari wanita adam. Seiring berjalnnya waktu kata “WADAM” ini kemudian diubah menjadi “WARIA” atau singkatan dari wanita pria. LGBT ini hadir di Indonesia karena adanya pengaruh dari budaya barat yang meminta hak kebebasan orientasi seksual dan identitas seksual dan pada akhirnya banyak warga Indonesia yang terpengaruh dan mengikuti budaya barat atas permintaan kebebasan hak dari mereka. Disebutkan dalam sumber informasi dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia,  LGBT di Indonesia jika menggunakkan prevalensi dari populasinya bisa mencapai 3 juta lebih. Banyaknya pro dan kontra mengenai hal ini karena pada umumnya kelompok LGBT ini  masih banyak mengalami kekerasan dan diskriminasi dalam kesempatan kerja dan tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Kelompok LGBT umumnya mengharapkan perlakuan yang lebih seimbang dan adil dari pemerintah, mereka ingin orientasi seksual dan perilaku seksual tidak menjadi hambatan bagi mereka dalam bermasyarakat, berkarya, beprestasi, dan berkontribusi dalam pembangunan. Masyarakat sendiri masih memilih stigma terkait dengan LGBT, khususnya akibat paparan media yang berlebihan dan tindak laku LGBT itu sendiri yang mendatangkan kekhawatiran, seperti kasus HIV AIDS dan kasus kejahtan seksual pada anak ditambah lagi dengan pemikiran yang dilandasi agama yang menolak adanya hubungan sesama jenis, alhasil masyarakat masih tidak dapat menerima keberadaan LGBT tersebut.

Selain dari sisi sosial dan kesehatan, LGBT juga membawa dampak buruk dari sisi pendidikan dan keamanan menurut data yang didapatkan bahwa masyarakat yang mengikuti kaum ini banyak menghadapi permasalahan putus sekolah lima kali lebih besar daripada siswa normal karena mereka merasakan ketidakamanan dan 28% dari mereka dipaksa untuk meninggalkan sekolah sehingga terjadi 25 kasus pembunuhan sadis dengan latar belakang kehidupan pelaku atau korban dari kalangan pelaku LGBT tersebut. Kaum LGBT sendiri memiliki ekspetasi terkait semua hal. Dari sisi sosial, mereka berharap penerimaan masyarakat dalam kehidupan sosial, berperilaku, dapat memahami gender, orientasi dan identitas seksual. Dari sisi HAM dan diskriminasi, berharap adanya persamaan hak-hak politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya dan tempat tinggal. Dari sisi keagamaan, mereka berharap besar dapat terlibat semua kegiatan keagamaan tanpa hambatan. Akan tetapi, banyaknya pemikiran masyarakat Indonesia yang terlalu kuat dan berlebihan terkait dengan agama sehingga terjadinya perlakuan yang berbeda ini lah yang banyak dirasakan oleh kaum LGBT merasa tidak nyaman. Jika dari keagamaan ini dipelajari dengan cermat, agama tidak pernah melarang siapapun untuk beribadah meskipun dalam agama sendiri menyebutkan jika menyukai sesama jenis maupun merubah jenis kelamin itu sangat dilarang tetapi jika seseorang itu tau tempatnya dimana dia beribadah, agama tidak mempermasalahkan itu. 

Dari sudut pandang mereka, mereka ingin dihargai dan diperlakukan layaknya masyarakat pada umumnya tanpa adanya ejekan/diskriminasi lainnya akan tetapi bila dari sudut pandang masyarakat normal umumnya (salah satunya saya sebagai penulis) hal ini jika dibiarkan banyaknya masyarakat yang berkeinginan menjadi LGBT juga dan dampak buruk yang akan terjadi semakin luas. Seperti yang terjadi di daerah Jawa Barat, menurut data kementrian kesehatan pada tahun 2012 kaum terbanyak yang menjajah wilayah Indonesia terutama daerah Jawa Barat sendiri yaitu kaum gay atau banyak dikenal pecinta sesama lelaki dan banyaknya warga terkena HIV/AIDS karena ulah dari kaum gay. Inilah alasan saya sebagai penulis dan masyarakat normal umumnya yang lain mengharapkan bahwa fenomena ini tidak boleh terjadi lagi karena negara Indonesia adalah negara yang sangat berpegang teguh dengan hukum negara dan agama. Di Indonesia semua perbedaan dari masyarakat akan diterima jika tidak berbuat hal yang menyimpang dari norma kehidupan masyarakat agar dampak yang tidak diinginkan di negara Indonesia sebab banyaknya bagian dari kaum LGBT salah menanggapi tentang perbedaan yang dimaksud.


Baca juga:

Sorry, you cant copy SERU.co.id!