Wujudkan Smart Green Campus, UB Tekankan Lima Aspek Ini

Wujudkan Smart Green Campus, UB Tekankan Lima Aspek Ini
Sosialisasi program Smart Green Campus UB. (rhd)

Malang, SERU.co.id – Upaya mewujudkan program Smart Green Campus, Universitas Brawijaya (UB) menekankan 5 (lima) aspek sebagai konsep kampus berkelanjutan. Di antaranya Waste (sampah), Water (air), Energy and Climate Change (energi dan perubahan iklim), Setting and Infrastruktur (pengaturan dan infrastruktur), dan Transportation (transportasi).

Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof Widodo SSi MSi PhD MedSc menegaskan, konsep Green Campus tak semata pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan. Ada banyak aspek kebijakan holistik untuk mengubah konsep, kultur dan pola pikir sivitas akademika.

Bacaan Lainnya

“Green Campus ini bukan sekadar persoalan sampah atau lingkungan, tetapi kebijakan holistik untuk mengubah kultur. Universitas harus memikirkan keberlanjutan, baik dari aspek lingkungan, manajemen, merubah mindset maupun perilaku setiap sivitas. Dosen, tendik hingga mahasiswa harus peka, peduli dan paham bagaimana mewujudkan kampus hijau UB berkelanjutan,” seru Prof Widodo, usai membuka sosialisasi Program Smart Green Campus di hadapan Dekan beserta jajarannya, Senin (19/1/2026).

Rektor UB Prof Widodo dan Sekun UB Tri Wahyu Nugroho, menjawab pertanyaan awak media. (rhd)
Rektor UB Prof Widodo dan Sekun UB Tri Wahyu Nugroho, menjawab pertanyaan awak media. (rhd)

Disebutkannya, beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan, di antaranya peralihan sistem administrasi dan pembelajaran berbasis kertas ke digital, hingga transisi sumber daya. Dan yang lebih penting, perubahan mindset dan tindakan langsung dengan memilah jenis sampah untuk memudahkan proses daur ulang.

“Selama ini pola manajemen dan perkuliahan menggunakan banyak kertas dan diprint, perlahan kita integrasikan tanpa limbah dengan sistem digital. Membuang sampah sesuai jenisnya, meski terlihat simpel, namun tidak mudah untuk mengubah menjadi kebiasaan semua individu kampus,” terang Prof Widodo.

Terkait transisi penggunaan energi secara bertahap, Widodo menyebut, penggunaan listrik ramah lingkungan menjadi target utama energi baru terbarukan (EBT). Seperti penggantian lampu konvensional dengan lampu LED yang lebih hemat energi dengan sumber EBT solar panel.

“Sumber listrik itu mayoritas kan batu bara, kita shifting dan manfaatkan dari yang renewable atau EBT seperti panel surya. Tentunya akan lebih berkelanjutan, menggunakan lampu LED jadi lebih terang dan hemat, itu lebih eco friendly,” jelasnya.

Terkait pengelolaan limbah, termasuk limbah laboratorium, menjadi agenda besar UB menuju campus zero waste. Dimana limbah diolah kembali menjadi produk bernilai guna, seperti kompos, biogas, hingga bioetanol.

“Jadi ada sentuhan riset dan inovasi teknologi, sebagaimana Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tandasnya.

Smart Green Campus Libatkan Seluruh Fakultas di UB

Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr Tri Wahyu Nugroho SP MSi mengatakan, keterlibatan seluruh fakultas dengan kelebihan masing-masing menjadi tantangan tersendiri. Meski secara umum, ada beberapa pola yang dapat dilakukan semua fakultas dengan potensi yang sama.

“Perubahan perilaku, khususnya pemilahan sampah, semua fakultas dapat melakukannya, sederhana tapi tidak mudah. Misal habis makan nasi kotak, sampah di dalamnya itu harus dibuang sesuai 3 jenis kelompok sampah, perlu proses kebiasaan,” ungkap Tri Wahyu.

Menurut Tri, mahasiswa akan dilibatkan secara aktif karena menjadi populasi terbesar di kampus. Salah satu wacana yang tengah disiapkan yakni Car Free Day setiap Jumat, serta penguatan budaya ‘bring your own tumbler’ melalui penyediaan water station

“Tingkat kesadaran itu harus dipaksa, karena mahasiswa berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang kultur yang pastinya berbeda. Ke depan, akan ada reward dan punishment, tapi bertahap pelan-pelan,” tandasnya.

Lima Pilar dan Lima Aspek Smart Green Campus UB

Ketua UPT UB Green Campus, Prof Sri Suhartini, STP MEnv Mgt PhD PGCert IPM menjelaskan, Smart Green Campus merupakan program komitmen UB sebagai kampus berkelanjutan. Sebagai UPT yang baru berdiri pada Oktober 2025, pihaknya memegang peranan penting sebagai regulator dan motor penggerak implementasi prinsip-prinsip kampus berkelanjutan.

“UPT UB Green Campus mengusung lima pilar Green Campus, mulai dari komitmen kelembagaan dan tata kelola, hingga transparansi pelaporan dan tolok ukur internasional. Dan lima aspek Smart Green Campus, mulai sampah hingga tranportasi,” jelas Prof Neneng, sapaan akrabnya.

Kepala UPT Green Campus UB, Prof Sri Suhartini, menjelaskan program Smart Green Campus. (rhd)
Kepala UPT Green Campus UB, Prof Sri Suhartini, menjelaskan program Smart Green Campus. (rhd)

Secara rinci, lima pilar Green Campus, di antaranya:

  1. Institusional commitment and governance (Komitmen kelembagaan dan tata kelola),
  2. Enviromental management and infrastructure (manajemen lingkungan dan infrastruktur),
  3. Suistanable.education and research (pendidikan dan penelitian berkelanjutan),
  4. Social inclusion and quality of life (inklusi sosial dan kualitas hidup),
  5. Transparancy, reporting and international benchmarking (transparansi, pelaporan dan tolok ukur internasional).

“Implementasinya, setiap fakultas wajib meningkatkan efisiensi dan kinerja lingkungan melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle) berbasis smart technology,” jelasnya.

Sementara itu, lima aspek Smart Green Campus, di antaranya:

  1. Waste (sampah), dengan mengevaluasi program pengelolaan sampah, daur ulang dan pengurangan limbah.
  2. Water (air), dengan menilai program konservasi air, penggunaan air bersih dengan bijak. Dan pengurangan ketergantungan pada air tanah.
  3. Energy and Climate Change (energi dan perubahan iklim), dengan fokus pada kebijakan hemat energi terbarukan, efisiensi listrik dan konservasi energi.
  4. Setting and Infrastruktur (pengaturan dan infrastruktur), dengan menilai kondisi fisik kampus, ketersediaan ruang terbuka hijau, vegetasi dan bangunan hijau. Serta anggaran untuk upaya keberlanjutan.
  5. Transportation (transportasi), dengan mengukur kebijakan transportasi kampus yang ramah lingkungan. Seperti ketersediaan jalur pejalan kaki, kendaraan ramah lingkungan dan pembatasan kendaraan pribadi.

Disebutkannya, ada beberapa tahapan sosialisasi yang dilakukan UPT Green Campus UB, dimulai dari launching program Smart Green Campus (SGC) 2026 pada 19 Januari 2026. Dilanjutkan pembentukan tim SGC unit fakultas, implementasi program dan batas akhir subsidi isian instrumen SGC. Serta visitasi lapangan, submit laporan akhir dan pemberian penghargaan pada HUT Kemerdekaan ke-81 Rrepublik Indonesia.

“Harapannya, tiap fakultas dapat menberikan hasil pencapaian dalam bentuk video, berita dan laporan akhir, serta publikasi ilmiah. Selain itu, program ini diharapkan mendorong pemberitaan media yang relevan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 6 tentang air bersih dan SDGs 7 tentang energi bersih,” tandasnya. (rhd)

 

disclaimer

Pos terkait