Malang, SERU.co.id – Menunda pernikahan merupakan hal jamak dengan beragam pertimbangan dapat menimpa semua kalangan. Bagi Gen Z, menikah adalah pilihan sadar yang menuntut kesiapan mental, emosional dan finansial.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, 71 persen penduduk usia 16–30 tahun di Indonesia masih berstatus belum kawin pada 2025. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan 2020 yang berada di level 59,82 persen. Sementara itu, proporsi pemuda yang menikah justru terus menurun, dari 38,85 persen pada 2020 menjadi 27,92 persen pada 2025.
Psikolog RS Royal Taruma, Alvina MPsi menilai, fenomena ini tidak bisa disederhanakan sebagai keengganan menikah semata. Menurutnya, pernikahan kini dipersepsikan sebagai paket tuntutan kompleks.
“Ini bukan hanya soal pesta pernikahan, tapi juga tuntutan setelah menikah. Berapa anak yang harus dimiliki, bagaimana pola hidup, hingga tanggung jawab jangka panjang,” seru Alvina, dikutip dari Medcomid, Senin (19/1/2026).
Perbedaan ekspektasi antara Gen Z dan orang tua menjadi salah satu pemicu. Generasi muda cenderung menginginkan intimate wedding atau private wedding. Sementara orang tua sering berharap acara besar yang sarat tradisi.
“Di situ sering muncul konflik. Padahal, Gen Z lebih ingin pernikahan bermakna. Bukan sekadar meriah,” kata Alvina.
Faktor psikologis juga memainkan peran besar. Alvina menuturkan, banyak Gen Z membawa trauma masa kecil yang belum selesai. Mulai dari pola asuh tidak sehat hingga menyaksikan konflik rumah tangga orang tua.
“Melihat orang tua mengalami KDRT atau perselingkuhan membuat sebagian anak berpikir, ‘Untuk apa menikah kalau ujungnya seperti itu?’ Trauma ini bisa mengganggu kesiapan membangun hubungan,” jelasnya.
Tekanan ekonomi hingga cerita kegagalan rumah tangga di media sosial, pernikahan tak lagi dianggap sebagai target hidup yang harus segera dicapai. Paparan media sosial turut memperkuat sikap hati-hati tersebut.
Akses mudah terhadap cerita perceraian, konflik rumah tangga, hingga ketidakharmonisan keluarga. Hal itu membuat Gen Z lebih sadar akan risiko pernikahan.
Di sisi lain, persoalan ekonomi menjadi faktor krusial. Harga rumah kian melambung, biaya pendidikan anak, asuransi, hingga kebutuhan gaya hidup. Semua itu membuat pernikahan terasa sebagai beban besar.
“Beli rumah sekarang bisa nyicil 25 tahun. Biaya hidup makin mahal, sementara pendapatan tidak selalu seimbang. Ini jadi stressor utama,” ujar Alvina.
Salah satu Gen Z, Aulia Fahrin (25) mengatakan, dirinya menunda pernikahan karena masih belum yakin dengan pasangannya.
“Bukan tidak ingin menikah, tapi saya ingin lebih selektif. Menurut saya, lebih baik terlambat menikah daripada seumur hidup bersama orang yang salah,” ungkap pria asal Sumatra Utara tersebut kepada SERU.co.id.
Lain halnya dengan Anita Rahmi, ia mengaku masih ingin menyelesaikan diri sendiri sebelum dengan orang lain.
“Sebagai perempuan, saya ingin berdiri di kaki sendiri dulu. Masih ingin mencapai pendidikan, karier dan pengalaman hidup. Menikah nanti saja, setelah saya selesai berpetualang dan mencapai mimpi-mimpi saya,” ujarnya.
Sementara itu, Seksolog, dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS menilai, gaya hidup dan pola pikir Gen Z juga berkontribusi pada menurunnya minat menikah. Menurutnya, banyak anak muda berada dalam posisi sandwich generation dan terbiasa dengan kehidupan instan.
“Mereka menghadapi problem hidup yang kompleks. Jadi tidak heran memilih menunda menikah dan memiliki anak,” ujar Boyke, seperti dilansir dari inewsid.
Namun, ia mengingatkan potensi dampak lanjutan. Termasuk meningkatnya perilaku seks bebas yang berisiko terhadap kesehatan reproduksi. Boyke juga menekankan, memiliki anak dapat memberi manfaat psikologis, seperti melatih empati dan mengurangi sikap egois.
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap pernikahan. Bagi Gen Z, menikah bukan lagi kewajiban sosial. Melainkan pilihan sadar yang harus selaras dengan kesiapan mental, emosional dan finansial. (aan/rhd)







