Malang, SERU.co.id – Hamur Mbah Ndut 1923 merupakan salah satu destinasi kuliner unggulan di Kampoeng Heritage Kajoetangan. Kafe berkonsep rumah peninggalan era Kolonial Hindia-Belanda itu menjadi saksi bagaimana menghidupkan warisan sejarah Kayutangan Heritage melalui wisata kuliner.
Pemiliknya, Rudi mengungkapkan, kafe tersebut berawal dari rumah warisan keluarga yang dibangun sekitar tahun 1923. Hampir seluruh bagian rumah seperti pintu, jendela, hingga lantai masih asli sejak pertama kali dibangun.
“Ini rumah peninggalan eyang kami. Dibangun sekitar tahun 1923, nyaris tidak ada perubahan. Semua masih asli,” seru Rudi, Selasa (30/12/2025) malam.
Perubahan hanya dilakukan pada bagian atap yang semula terbuat dari bambu dan kayu. Karena lapuk dimakan usia, material tersebut tak lagi mampu bertahan, sehingga diganti tanpa menghilangkan karakter aslinya berupa atap pelana kuda.
“Gaya atap tersebut menjadi penanda kuat arsitektur era 1920–1950, sebelum berkembangnya gaya rumah jengki. Desain rumah ini justru merepresentasikan transisi arsitektur kolonial ke Nusantara menjelang kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya.
Keunggulan rumah ini juga tampak pada fondasinya, disangga batu kali yang disusun rapi, direkatkan dengan campuran semen merah dan gamping. Ini merupakan teknik konstruksi yang menunjukkan kecanggihan para leluhur.
“Menariknya, tembok rumah tampak lembap hingga ketinggian sekitar satu meter. Namun kondisi tersebut bukan tanda kerusakan, melainkan bukti daya tahan material tradisional yang justru menjaga kekokohan bangunan,” ujarnya.
Rudi mengakui, pendirian Hamur Mbah Ndut 1923 digagas sejak 2018 silam, saat Pemkot Malang menetapkan kawasan tersebut sebagai Kampoeng Heritage Kajoetangan. Dirinya yang kala itu membuka toko sembako, melihat adanya potensi besar.
“Awalnya saya mikir, wisatawan ke sini masa beli beras? Akhirnya saya buat tempat istirahat saja, hingga menjadi kedai kopi bernuansa tempo dulu. Nama Kopi Hamur Mbah Ndut dipilih sebagai penghormatan kepada orang tua saya yang akrab disapa Mbah Ndut,” terangnya.
Melalui arsitektur lawas dan benda-benda kuno yang dipajang di berbagai sudutnya, pemilik ingin menghidupkan warisan sejarah keluarga. Para pengunjung tidak hanya beristirahat dan menikmati kuliner, tapi juga merasa kembali ke lorong waktu, menyaksikan nuansa Kayutangan awal abad-19.
Barista Hamur Mbah Ndut 1923, Jojo menerangkan, kafe ini mengusung konsep kopi tanpa gula yang disajikan dalam gelas-gelas kuno peninggalan keluarga. Adapun menu minuman yang menjadi ‘best seller’, yakni Kopi Guri dan Es Kopi Mbah Ndut.
Baca juga: Jelang Tahun Baru, Pengunjung Kayutangan Heritage Membludak Hingga 3.000 Wisatawan Sehari
“Kopi Guri itu menyajikan cita rasa fresh milk dengan perpaduan gula palem, hingga espresso dari jenis Arabika. Sedangkan Es Kopi Mbah Ndut menawarkan cita rasa kopi lezat dengan perpaduan susu kelapa,” jelasnya.
Tidak hanya minuman, Hamur Mbah Ndut 1923 juga menawarkan aneka menu makanan dengan sentuhan tradisional-modern. Nasi Ayam Rica dan Nasi Ayam Teriyaki menjadi menu makanan paling best seller yang kerap dipesan pengunjung.
“Perpaduan cita rasa tradisional dan modern menjadi ciri khas kami, dengan olahan ayam sebagai bahan utama yang banyak disukai orang. Untuk menikmati kuliner kami sembari merasakan nuansa bersejarah, pengunjung bisa datang antara pukul 08.00-21.00 WIB,” tandasnya.
Jojo berharap, Hamur Mbah Ndut 1923 senantiasa menghidupkan warisan sejarah melalui dunia kuliner untuk menarik kunjungan wisatawan. Bukan hanya sejarah milik keluarga, tapi jejak-jejak kehidupan masa lalu di Kayutangan yang turut mewarnai perkembangan Kota Malang. (bas/rhd)








