Malang, SERU.co.id – Sidang Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA) Dies Natalis ke-63 Universitas Brawijaya (UB) usai digelar, Senin (5/1/2025). Dalam momen tersebut, kampus sebagai solusi menghadapi disrupsi teknologi untuk mencetak lulusan yang berkualitas.
Rektor UB Prof. Widodo SSi MSi PhDMedSc mengungkapkan, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai arsitek peradaban. Keberadaan kampus tidak hanya menjadi ruang-ruang pengajaran akademik, tetapi juga pusat lahirnya gagasan dan inovasi yang membentuk masa depan.
“Sebagian besar perubahan itu dimulai dari ruang kelas dan laboratorium. Di sanalah benih masa depan ditanam oleh para akademisi,” seru Widodo, Senin (5/1/2025).
Widodo mengatakan, perguruan tinggi tidak hanya mengikuti zaman, tetapi juga harus mampu mengkreasikan zaman itu sendiri. Di tengah disrupsi teknologi saat ini, kampus dituntut sebagai solusi mengintegrasikan pembelajaran berbasis teknologi.
“Universitas merupakan arsitek peradaban yang melahirkan inovasi di bidang teknologi dan ekonomi. Karena itu, seluruh sivitas akademika harus mampu menguasai teknologi sebagai simbol pengetahuan untuk menjawab tantangan umat manusia,” ungkapnya.
Ia juga menekankan, pentingnya kepemimpinan akademik, dimana setiap dosen dan profesor diposisikan sebagai academic leader di bidang keilmuannya masing-masing. Hal ini untuk mendorong kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat dan bangsa.
Senada, Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof Ir Yassierli ST MT PhD menegaskan, pentingnya kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat dan bangsa. Optimalisasi teknologi menjadi aspek penting dalam menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi di tengah tantangan disrupsi teknologi.
“Perguruan tinggi harus adaptasi dengan disrupsi teknologi yang berpotensi mengancam jutaan lulusan sarjana. Jangan hanya mampu menggunakan teknologi, tapi juga bagaimana memanfaatkan bahkan mengembangkannya untuk kemaslahatan bersama,” tegas Prof. Yassierli.
Yassierli memaparkan, tiga tantangan utama ketenagakerjaan saat ini antara lain, kehadiran AI dan disrupsi teknologi, transformasi energi hijau serta pertumbuhan demografi. Di tahun 2030 mendatang, akan tercipta 170 juta tenaga kerja baru, sementara 92 juta pekerja akan hilang/tergantikan teknologi.
“Sebanyak 59 juta orang perlu reskilling dan upskilling, supaya tidak kehilangan pekerjaan. Kehadiran AI menjadi tantangan serius, yang harus bisa dikuasai penggunaannya,” ujarnya.
Yassierli menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadapi tantangan tersebut untuk optimalisasi penyerapan tenaga kerja profesional. Pertama, memastikan lulusan memiliki kompetensi yang terukur dengan bekal penguasaan teknologi dan mengintegrasikan Human Skills secara sistematis.
“Perguruan tinggi dengan pembekalan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknologi bagi lulusannya, juga harus menjadi jembatan antara industri dan kampus. Ini penting, mengingat data menunjukkan 38 persen Global Company Leaders mencari kandidat yang mampu menguasai teknologi dan human skill yang baik,” bebernya.
Sementara itu, Ketua Panitia Dies Natalis ke-63 UB, Prof Dr Hamidah Nayati Utami SSos MSi menjelaskan, Sidang Pleno Terbuka MWA merupakan forum strategis tahunan. Agenda utama sidang pleno ini adalah penyampaian laporan kinerja Rektor UB selama satu tahun terakhir.
“Agenda pertama adalah laporan kinerja rektor yang dipertanggungjawabkan langsung di hadapan Majelis Wali Amanat. Laporan tersebut telah diterima dan dilaporkan,” jelasnya.
Selain laporan kinerja, sidang pleno juga diisi dengan orasi ilmiah dari akademisi dan pejabat pemerintah. Hamidah menilai, kehadiran Menteri Ketenagakerjaan sangat relevan dengan tema Dies Natalis ke-63 UB dalam konteks penyiapan lulusan yang siap memasuki dunia kerja.
“Sidang Pleno Terbuka MWA Dies Natalis ke-63 UB menjadi momentum refleksi perjalanan UB selama lebih dari enam dekade. Sekaligus menguatkan komitmen seluruh sivitas akademika untuk terus tumbuh berdaya dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan bangsa,” tandasnya. (bas/rhd)








