Malang, SERU.co.id – Universitas Negeri Malang (UM) meresmikan Wisma Prof. H. Sutan Adam Bachtiar atau nanti dikenal sebagai Hotel Bachtiar, terletak di Jalan TGP 7 Kota Malang, Selasa (30/12/2025). Sebagai bentuk penghormatan kepada Rektor pertama UM – dulunya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Malang – periode 1954-1958. Serta upaya menjaga cagar budaya dan kemandirian kampus mengelola aset yang dimiliki UM.
Rektor UM, Prof Dr Hariyono MPd mengatakan, wisma yang dulunya dikenal dengan Wisma Ringgit, kini menjadi Wisma Prof HS Adam Bachtiar atau Hotel Bachtiar. Sebagai bentuk penghormatan kepada Rektor pertama UM, sekaligus Ahli Kartografi (ilmu membuat peta).
“Beliau Prof HS Adam Bachtiar adalah pimpinan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Malang tahun 1954-1958, kartograf atau orang ahli membuat peta pertama di Indonesia. Dari sini, kami ingin memulai beberapa gedung yang dimiliki UM bisa memanfaatkan nama-nama tokoh yang dianggap berjasa bagi UM. Apakah itu intelektualitasnya atau leadership-nya atau lain-lain,” seru Prof Hariyono, sapaan akrabnya, Selasa (30/12/2025).
Dengan status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), peresmian Hotel Bachtiar ini menandai langkah strategis UM dalam mengoptimalkan aset kampus. Pasalnya, PTN-BH dituntut untuk semakin mandiri secara finansial tanpa membebani mahasiswa dan orang tua.
“Aset-aset yang dimiliki oleh PTN-BH termasuk UM itu tidak boleh tidur, harus dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, pengabdian hingga income generating. Dan itu dikelola oleh PT Cakra dibawah kelola Badan Pengembangan Usaha dan Dana Abadi (BPUDA),” ucap Prof Hariyono.
Diharapkannya, keberadaan hotel ini dapat menggantikan penggunaan hotel eksternal selama kegiatan kampus. Sehingga anggaran yang digunakan lebih efisien karena ada potongan harga khusus, dan berputar di lingkungan badan usaha dan akademisi UM.
“Makanan dan minuman juga dikelola oleh UM melalui holding PT Cakra, dan aset Graha Tumapel termasuk ditangani BPUDA. Nantinya BPUDA akan menangani beberapa PT, untuk memfasilitasi para dosen dan mahasiswa UM untuk berkiprah di bidang kewirausahaan,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor II UM, Prof Dr Puji Handayati SEAk MM CA CMA menyampaikan, Hotel Bachtiar tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendukung akademik. Tetapi juga menjadi unit usaha kampus dan laboratorium pendidikan di bidang pariwisata, dengan keberadaan Prodi Pariwisata.
“Mudah-mudahan ini nanti bisa optimal dan kemanfaatannya tidak hanya bagi warga UM, tapi juga masyarakat Kota Malang dan nasional,” jelas Prof. Puji, sapaan akrabnya.
Saat ini, Hotel Bachtiar dilengkapi 32 kamar dengan fasilitas air panas di kamar mandi, ruang pertemuan, serta fasilitas pendukung lain yang ditargetkan rampung sepenuhnya April 2026.
“Sebagai institusi, UM harus terus bertumbuh dan berkembang. Untuk itu, kami masih melakukan beberapa tahapan, agar nantinya sarana prasarana yang digunakan dapat dinikmati dengan baik,” terangnya.
Terkait doa bersama dan refleksi akhir tahun, Prof Puji mengatakan, sengaja kegiatan yang biasanya dilaksanakan di Masjid Al Hikmah dikemas jadi satu. Agar Hotel Bachtiar mendapatkan keberkahan dalam perjalanan ke depannya.
“Prinsipnya agar mendapatkan keberkahan dan lebih berkembang,” tandasnya.
Senada, Direktur Sarana, Prasarana, dan Aset UM, Prof. Dr Sunaryono SPd MSi menyampaikan, pihaknya hanya memoles Wisma Ringgit tanpa merubah ciri bangunan heritage. Tentunya menyesuaikan kebutuhan sebagai hotel, dengan membangun 32 kamar dalam bangunan baru yang terletak di halaman belakang.
“Jadi tambahannya di halaman belakang yang sebelumnya tanah kosong, dibangun aula di lantai 1, sementara lantai 2 dan 3 untuk kamar. Pada bangunan heritage di depan tetap, tidak ada perubahan signifikan diperuntukkan untuk lobi dan ruang makan atau resto. Konsepnya, seperti hotel tipe bintang 2,” jelas Prof Sunaryono.
Disebutkannya, bangunan tambahan dikembangkan secara modern agar terjadi kesinambungan antara nilai lama dan baru. Rencananya, pengelolaan hotel berada di bawah manajemen UM, agar dapat belajar mengelola aset-aset milik UM.
“Apakah dikelola oleh praktisi maupun kolaborasi dengan sivitas UM, mana yang terbaik masih kami diskusikan. Nanti kalau ada kegiatan, bisa diarahkan ke sini, karena kami buka untuk masyarakat umum, dan tarif khusus bagi sivitas akademika UM,” tandasnya. (rhd)








