Malang, SERU.co.id – Pusat Bahasa Mandarin Universitas Negeri Malang (UM) bersama Guangxi Normal University (GXNU) Press membuka Du Xiu Shu Fang Reading Center di Perpustakaan UM, Selasa (30/12/2025). Dimana Guangxi Normal University Press memiliki 21 toko buku Du Xiu Shu Fang yang tersebar di Tiongkok, serta 3 toko buku di luar negeri, salah satunya di UM.
Direktur Kantor Urusan Internasional UM, Sari Karmina SPd MPd PhD mengatakan, Du Xiu Shu Fang merupakan wujud kerjasama lintas lembaga dan negara. Selain melibatkan Indonesia-China, juga melibatkan Universitas Negeri Malang (UM), Guangxi Normal University (GXNU), Guangxi Normal University Press, Du Xiu Shu Fang dan Confisius Institute.
“Du Xiu Shu Fang bukan hanya sebagai pusat literasi dengan ribuan buku, namun juga literasi ekonomi, budaya, politik hingga industri. Di UM mendapatkan bantuan 1.500 eksemplar buku dengan 800 judul, sarana prasarana dan lainnya, setara ratusan juta,” seru Sari, sapaan akrabnya, usai pembukaan Selasa (30/12/2025) petang.
Nantinya, dua kali dalam sebulan akan menggelar kegiatan kebudayaan, baca buku untuk anak-anak, mahasiswa hingga dewasa. Dimana Pusat Mandarin UM bersama Perpustakaan UM yang akan mengelola kegiatan tersebut. Dibantu oleh 5 guru yang didatangkan khusus oleh GXNU.
“Tak hanya pertukaran budaya, namun juga scholarship atau beasiswa kuliah di Guangxi Normal University (GXNU) China untuk jenjang S2-S3. Saat ini, ada 20 mahasiswa UM yang sedang mengikuti program Summer Camp di sana (GXNU China). Dan ini adalah kerjasama tahun ke-14,” terang wanita yang juga menjabat Direktur Pusat Bahasa Mandarin UM.
Senada, Kepala UPT Perpustakaan UM, Nurenzia Yannuar SS MA PhD menjelaskan, pihaknya patut berbangga menjadi bagian Du Xiu Shu Fang ketiga di dunia. Dalam memperluas literasi bahasa dan budaya Mandarin satu-satunya di Indonesia, selain Hanoi Vietnam dan Songklak Thailand.
“Dengan berdirinya Du Xiu Shu Fang Reading Center di Perpustakaan UM, harapannya literasi bahasa dan budaya Mandarin semakin berkembang. Prosesnya cukup panjang, sebelum MoU, ada banyak komitmen dari beragam pihak yang harus sama-sama dipenuhi dan disepakati. MoU disusun tahun 2024, pembangunan ruangan di Perpustakaan UM tahun 2025 dan diresmikan hari ini,” jelas Renzi, sapaan akrabnya.
Disebutkannya, buku-buku yang ada di Du Xiu Shu Fang Reading Center UM tentang pendidikan, karya sastra dan lainnya dalam bahasa Mandarin. Diproduksi khusus oleh Guangxi Normal University Press. Dimana akses Du Xiu Shu Fang Reading Center UM terbuka untuk umum dan gratis.
“Ada koleksi buku istimewa tentang Presiden China Xi Jinping, diterjemahkan dalam 9 bahasa, termasuk bahasa Indonesia,” tandas Renzi.
Dalam sambutan pembukaan, Rektor UM, Prof Dr Hariyono MPd mengapresiasi, pembukaan Du Xiu Shu Fang Reading Center di UM. Pasalnya, perjalanan panjang kerjasama dua negara, Indonesia dan China, telah lebih dulu terjalin belasan tahun lalu.
“Tak hanya sekadar seremonial pembukaan Du Xiu Shu Fang Reading Center, harapannya ada tindak lanjut lebih luas yang dapat memajukan kampus UM dan GXNU China. Sehingga semakin menguatkan kerja sama internasional Indonesia – China,” ucap Prof Hariyono.
Prof Hariyono mengaku, saat berkunjung ke Guangxi Normal University beberapa waktu lalu. Dirinya sangat tertarik dengan kepemimpinan Xi Jinping saat membaca bukunya yang membahas sistem pemerintahan China.
“Bukunya sangat bagus, di situ saya bisa belajar sejarah kontemporer China. Di situ juga diceritakan bagaimana nenek moyang kita dengan kulit hitam berinteraksi dengan kulit putih, sehingga hasilnya keturunan kulit sawo matang,” jelas Prof Hariyono.
Bahkan, dirinya menduga kuliner tradisional asal Kota Malang terpengaruh oleh hubungan sejarah panjang antara China-Indonesia, seperti Bakso Malang, tempe dan lainnya. Bahkan konsep pemikiran sosialisme, nasionalisme dan demokrasi dari China juga mempengaruhi beberapa tokoh bangsa Indonesia.
“Seperti Cokroaminoto, yang menulis buku Islam dan sosialisme. Dengan saling belajar, ada banyak hal yang bisa dipelajari dan dipilah untuk dijadikan pengetahuan, termasuk bahasa dan budaya Mandarin dan Indonesia. Bahkan di abad 20, China mengalami lompatan sangat besar di bidang teknologi, pembangunan ekonomi, politik dan militer, itu bisa kita jadikan pelajaran,” tandasnya. (rhd)








