Batu, SERU.co.id – Fenomena penurunan kunjungan wisata yang diprediksi terjadi pada tahun 2025 mulai memicu kekhawatiran di berbagai sektor. Muncul pertanyaan besar: apakah daya tarik Kota Batu mulai memudar di mata wisatawan?
Menanggapi hal tersebut, Dr. A. Faidlal Rahman, SE. Par., M.Sc., CHE., Tourismologist dari Universitas Brawijaya, memberikan perspektif mendalam. Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini bukanlah sekadar hilangnya minat wisatawan. Melainkan perubahan perilaku konsumen global yang jauh lebih kompleks.
Dr. Faid menjelaskan, pascapandemi terjadi pergeseran paradigma di mana wisatawan menjadi lebih rasional dan sensitif terhadap biaya. Ketidakpastian ekonomi global mendorong tren perjalanan singkat atau day trip tanpa menginap.
”Banyak destinasi terlihat tetap ramai, namun nilai ekonomi terutama bagi sektor perhotelan justru menurun. Ini adalah bagian dari dinamika pariwisata global,” ungkapnya.
Di Kota Batu, fenomena ini terlihat sangat nyata. Meskipun arus kendaraan tetap padat, mayoritas wisatawan hanya berkunjung singkat atau sekadar melintas. Dampaknya, okupansi hotel merosot tajam karena lama tinggal (length of stay) wisatawan yang semakin pendek.
“Selain faktor ekonomi, masalah klasik seperti kemacetan dan kepadatan saat musim liburan turut memicu kejenuhan destinasi. Wisatawan cenderung membatasi waktu kunjungan mereka untuk menghindari rasa tidak nyaman akibat kepadatan tersebut,” serunya.
Selain itu, Faid menuturkan, karakter Kota Batu yang didominasi oleh wisata buatan dan wisata keluarga membuatnya sangat rentan terhadap perubahan preferensi pasar. Wisatawan kini lebih selektif dalam memilih destinasi yang memberikan pengalaman lebih dari sekadar wahana permainan.
”Persoalan utama bukan semata-mata penurunan jumlah wisatawan, melainkan penurunan kualitas kunjungan dan kontribusi ekonomi bagi daerah,” tegas Dr. Faid.
Penurunan ini, lanjutnya, harus dimaknai sebagai “lampu kuning” bagi pemangku kebijakan dan pelaku industri di Kota Batu. Faid menekankan pentingnya transformasi strategi dari orientasi kuantitas menuju pariwisata berbasis kualitas. Beberapa langkah strategis yang diusulkan antara lain adalah penguatan pengalaman tematik untuk menciptakan alasan kuat bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama.
“Fasilitas hotel dengan atraksi alam, budaya, dan kesehatan juga dapat digabung untuk menyasar pada pasar yang lebih premium,” imbuhnya
Ia juga menambahkan, Kota Batu tidak benar-benar ditinggalkan, namun ekspektasi wisatawan telah berubah. Masa depan pariwisata Kota Batu kini bergantung pada seberapa cepat kota ini mampu beradaptasi dari sekadar destinasi “mampir” menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman yang bermakna.
“Kota Batu perlu bergeser dari orientasi kuantitas menuju pariwisata berbasis kualitas, dengan fokus pada peningkatan lama tinggal, penguatan pengalaman tematik, serta integrasi hotel dengan atraksi alam, budaya, dan wellness agar manfaat ekonomi lebih berkelanjutan,” pungkasnya. (dik/mzm)



