Batu, SERU.co.id – Kota Batu kini tengah bersiap memperluas jangkauan pasar pariwisatanya ke kancah internasional, khususnya Asia Timur. Seiring dengan meningkatnya minat wisman asal Jepang, penguatan Sumber Daya Manusia yang mahir berbahasa Jepang menjadi prioritas utama bagi industri pariwisata di kota dingin ini.
Daya tarik utama wisatawan Jepang ke Kota Batu adalah potensi alamnya yang memiliki kemiripan dengan lanskap di Jepang, terutama keberadaan sumber pemandian air panas alami. Bagi warga Jepang, budaya berendam atau Onsen bukan sekadar rekreasi, melainkan gaya hidup kesehatan yang sangat digemari.
Ketua Forum Desa Wisata Kota Batu, Muchamad Dadi menegaskan, kesiapan SDM adalah kunci agar potensi alam ini bisa terkonversi menjadi kunjungan yang berkelanjutan. Sebagai Direktur LPK Chishiki Indonesia, ia juga melihat adanya urgensi untuk mencetak pramuwisata yang tidak hanya fasih berkomunikasi, tetapi juga memahami budaya pelayanan Jepang.
”Kota Batu punya segalanya untuk menarik pasar Jepang; mulai dari udara sejuk, agrowisata petik buah, hingga pemandian air panas. Namun, tantangan terbesarnya adalah bahasa. Kita perlu pramuwisata yang mampu menjelaskan kearifan lokal kita dengan bahasa yang mereka pahami,” seru Muchamad Dadi.
LPK Chishiki Indonesia sendiri kini menjadi salah satu alternatif dalam menyiapkan tenaga kerja terampil. Lembaga ini fokus pada pelatihan kerja, kursus bahasa Jepang, hingga program magang langsung ke Negeri Sakura. Program magang ini dinilai strategis karena para pemuda Batu yang pulang dari Jepang akan membawa standar disiplin dan etika layanan (Omotenashi) yang tinggi.
”Warga Batu dan Malang Raya antusias untuk mendaftarkan diri dalam pendidikan bahasa Jepang. Banyak pemuda lokal yang mulai menyadari bahwa kemahiran bahasa asing adalah aset berharga untuk meningkatkan nilai jual pariwisata daerah,” tuturnya.
Dengan kolaborasi antara Forum Desa Wisata, pemerintah daerah, dan lembaga pelatihan seperti LPK Chishiki Indonesia, Kota Batu optimistis dapat menjadi destinasi favorit bagi wisatawan Jepang di Jawa Timur. Pada akhirnya, hasil yang diharapkan adalah mampu mendongkrak ekonomi kreatif masyarakat lokal. (dik/ono)







