Batu, SERU.co.ud – Kota Batu melakukan langkah besar dalam memetakan masa depan ekonominya melalui restrukturisasi kelembagaan yang signifikan. Berdasarkan kesepakatan dalam forum SeloSowan pada Rabu, 13 Januari 2026 lalu, Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Batu kini resmi bertransformasi menjadi Komite Ekraf Agrokreatif (KEA).
Ketua KEA Kota Batu, Mohammad Anwar mengatakan, perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan sebuah pergeseran orientasi strategis untuk menjawab tantangan globalisasi dan degradasi lingkungan. Salah satu poin dalam transformasi ini adalah reposisi struktur organisasi, dimana Komite Ekraf Agrokreatif kini berada langsung di bawah koordinasi Sekretariat Daerah (Sekda).
“Langkah ini diambil untuk memberikan ‘wewenang komando’ lintas dinas—mulai dari Dinas Pertanian, Diskoperindag, hingga Dinas Kominfo. Untuk menghapus ego sektoral yang selama ini menempatkan ekonomi kreatif hanya sebagai pelengkap sektor pariwisata,” seru Moh. Anwar.
Dalam menjalankan tugasnya, Komite Agrokreatif kini mengadopsi struktur tata kelola Hexahelix. Berbeda dengan model sebelumnya, struktur ini menambahkan elemen Agregator dan Lembaga Keuangan (Finance). Peran agregator sangat penting untuk menjembatani pelaku kreatif dan sebagai Valuator HKI dan penghubung rantai pasok global.
“Melalui kemitraan dengan lembaga keuangan seperti Bank Jatim dan Jamkrida, pemerintah juga mendorong skema IP Financing atau pembiayaan berbasis Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Ini memungkinkan sertifikat merek atau hak cipta milik UMKM menjadi agunan jaminan hutang,” ungkap Cak Anwar sapaannya.
Ketua Komite Ekraf Agrokreatif kini juga memiliki mandat untuk mengorkestrasi ekosistem dari hulu ke hilir. Fokus utamanya adalah transformasi dari ekonomi komoditas mentah menuju produk bernilai tambah intelektual. Sebagai contoh nyata, komoditas apel yang tidak lagi hanya dijual per kilogram.
“Melalui strategi agrokreatif, apel diarahkan menjadi produk inovasi farmasi seperti, skincare, hingga produk pengalaman wisata berbasis Augmented Reality (AR).
Anwar menambahkan, transformasi ini juga didukung filosofi lokal Giri Wana Tirta (Gunung, Hutan, dan Air) yang menjadi jiwa dari pembangunan daerah ini. Bahkan, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, telah memberi pengakuan bahwa model agrokreatif Batu sebagai prototipe kemandirian ekonomi kreatif nasional.
“Dengan target jangka panjang tahun 2045, Komite Agrokreatif diharapkan mampu menjadikan Kota Batu sebagai rujukan dunia dalam pengelolaan warisan budaya pangan dan ekonomi berbasis kreativitas manusia,” pungkasnya. (dik/ono)







