Malang, SERU.co.id – Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) resmi melaunching Pusat Infeksi Menular (Infectious Disease Center/IDC). Fasilitas ini didukung hibah Uni Eropa sebesar sekitar €5 juta atau setara Rp97 miliar yang disalurkan melalui Bank Pembangunan Jerman/Kreditanstalt fur Wiederaufbau (KFW) Jerman.
Rektor UB, Prof Widodo SSi MSi PhDMedSc mengungkapkan, IDC tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan klinis. Tapi juga sebagai pusat riset dan surveilans penyakit infeksi, seperti Covid-19, penyakit pernapasan, tuberkulosis dan penyakit akibat infeksi menular lainnya.
“IDC ini melayani pasien serta pengembangan terapi, vaksin dan diagnostik. Selain itu, IDC diharapkan menjadi pusat kajian kesehatan masyarakat (public health) terkait infeksi menular dan riset surveilans pada masyarakat,” seru Widodo, Sabtu (10/1/2025).
Widodo menjelaskan, IDC RSUB dibangun untuk memperluas akses layanan kesehatan berkualitas tinggi bagi penyakit menular dan penyakit baru (emerging diseases). Dukungan Uni Eropa sangat membantu memperkuat kesiapan pandemi, pengawasan penyakit, serta kapasitas respons klinis Indonesia.
“Jadi keberadaannya ini, renovasinya, alat-alatnya, dibantu oleh Uni Eropa. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih dengan dilanjutkannya kerja sama dengan Jerman,” ungkapnya.
Ke depan, RSUB menargetkan implementasi penuh layanan dan riset IDC mulai Juni 2026. Fasilitas ini akan diposisikan sebagai Center of Excellence (CoE) yang mengintegrasikan pelayanan, pendidikan dan penelitian.
“Termasuk pengembangan basis data penyakit infeksi serta kolaborasi dengan seluruh sistem layanan kesehatan di Malang Raya dan jaringan nasional. Dengan dukungan mitra internasional, RSUB siap berada di garis depan pelayanan penyakit menular yang modern, inklusif dan berbasis riset bagi masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.
Selain hibah, Pemerintah Jerman melalui KFW juga memberikan pinjaman berbunga rendah sebesar €37 juta untuk perluasan dan peningkatan peralatan rumah sakit. Dukungan ini bagian dari inisiatif Global Gateway, kemitraan investasi Uni Eropa dengan Indonesia di sektor kesehatan, pendidikan dan penelitian melalui pendekatan Tim Eropa (Team Europe).
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi menegaskan, pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting untuk kehidupan manusia di era modern. Penyakit atau infeksi menular tidak mengenal batas negara, sehingga harus ada kolaborasi lintas negara untuk menghadapi dampaknya.
“Kemitraan Global Gateway memungkinkan jutaan masyarakat Jawa Timur memperoleh manfaat dari peningkatan teknologi dan fasilitas kesehatan berstandar global. Penguatan riset juga menjadi aspek penting untuk terus memperkuat ketahanan kesehatan di Jawa Timur,” jelasnya.
Sementara itu, Duta Besar Jerman, Ralf Beste menyampaikan, Jerman berkomitmen mendukung penguatan sistem kesehatan Indonesia. Mulai dari produksi vaksin, pengembangan farmasi nasional, penguatan rumah sakit pendidikan dan pengendalian penyakit menular seperti malaria.
Direktur RSUB, Dr dr Viera Wardhani MKes menyampaikan, terimakasih atas dukungan pendanaan Uni Eropa melalui Global Gateway. IDC memperkuat komitmen RSUB dalam menyediakan layanan penyakit menular yang aman bagi pasien dan keluarga, sekaligus mendorong inovasi riset berstandar global.
“Secara fasilitas, IDC RSUB dilengkapi layanan rawat jalan penyakit menular, unit gawat darurat, fasilitas penitipan anak untuk transit kasus non-definitif. Ada juga layanan rawat inap dengan kapasitas perawatan intensif, serta Laboratorium Tingkat Keamanan Hayati 2 (BSL-2),” tandasnya. (bas/rhd)








