Prof Syamsul Bachri SSi MSc PhD
Prof Syamsul Bachri SSi MSc PhD dikukuhkan sebagai guru besar bidang Geografi Kebencanaan dan Lingkungan dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Dalam pidato pengukuhannnya, Prof Syamsul Bachri menyampaikan, orasi berjudul “Paradigma Baru Geografi Kebencanaan: Implementasi Human-Volcano (Hu-Vo) System Model Dalam Pengelolaan Risiko Bencana di Wilayah Gunung Api Indonesia”.
Prof Syamsul Bachri memaparkan, hasil implementasi model Hu-Vo pada sejumlah gunung api aktif di Indonesia, antara lain Gunung Bromo, Merapi, Kelud, Agung, Ijen, Raung, dan Semeru.
Melalui studi kasus, ia menunjukkan, proses vulkanik tidak hanya menghasilkan dampak destruktif, seperti awan panas, lahar, dan hujan abu. Tetapi juga memunculkan manfaat ekologis, ekonomi, sosial, dan kultural yang dinilai positif oleh masyarakat setempat. Seperti kesuburan tanah, peluang pariwisata, penguatan identitas budaya, serta meningkatnya kohesi dan resiliensi sosial.
“Bagi masyarakat Tengger di Bromo, erupsi tidak selalu dimaknai sebagai bencana. Ia juga dipahami sebagai bagian dari keseimbangan kosmik yang justru memperkuat solidaritas, pengetahuan lokal dan keberlanjutan penghidupan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Syamsul Bachri menekankan, pendekatan geografi kebencanaan yang holistik harus mengintegrasikan dimensi fisik, sosial, budaya dan spiritual secara simultan.
“Dalam konteks ini, kebijakan pengelolaan risiko bencana gunung api perlu dibangun melalui pemetaan risiko holistik, penguatan kapasitas lokal, komunikasi risiko dua arah. Serta manajemen bencana berbasis komunitas,” ucapnya.
Prof Dr Hartatiek MSi
Prof Dr Hartatiek MSi dikukuhkan sebagai guru besar bidang Biomaterial dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) jurusan Fisika (murni). Dalam pidato pengukuhannnya, Prof Hartatiek menyampaikan, orasi berjudul “NanoHidroksiapatit dari Batu Gamping: Untuk Rekayasa Scaffold Nanofiber Jaringan Tulang”.
Menurut Prof Hartatiek, Biomaterial adalah substansi atau material yang dirancang berinteraksi dengan sistem biologis (tubuh makhluk hidup), baik tujuan terapeutik (mengobati) maupun diagnostik. Material ini bisa dimasukkan ke dalam tubuh manusia dalam jangka waktu tertentu, tanpa menimbulkan reaksi berbahaya. Guna menggantikan atau memperbaiki fungsi organ yang rusak.
“Syarat yang harus dipenuhi sebagai biomaterial adalah bersifat biokompatibel, artinya material tersebut harus diterima oleh tubuh tanpa menyebabkan keracunan (toksisitas). Maupun peradangan hebat, penolakan oleh sistem imun dan tidak karsiogenik,” jelasnya.
Batu gamping (limestone) atau yang sering dikenal masyarakat sebagai batu kapur, adalah jenis batuan sedimen yang terbentuk, terutama di lingkungan perairan laut dangkal. Batuan ini sangat penting dalam biomaterial, karena batu gamping merupakan sumber kalsium alami utama untuk mensintesis Hidroksiapatit.
“Khusus untuk batu gamping Druju Malang mengandung unsur kalsium yang sangat tinggi yaitu sebesar 99,14 persen. Sehingga sangat potensial untuk mensintesis HAp,” tandasnya. (rhd)








