Kasus Rabies Kembali Terdeteksi di Indonesia, Begini Pencegahan dan Pertolongan Pertamanya

Kasus Rabies Kembali Terdeteksi di Indonesia, Begini Pencegahan dan Pertolongan Pertamanya
Kasus rabies kembali terdeteksi di Indonesia. (AI Generated)

Jakarta, SERU.co.id – Kasus rabies kembali terdeteksi di Indonesia dan menjadi alarm serius bagi masyarakat. Di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, ditemukan kasus rabies positif di dua desa, sementara di Gianyar, Bali, kembali terjadi puluhan kasus gigitan anjing.

Pakar virologi veteriner IPB, Dr drh Sri Murtini mengingatkan, Indonesia masih termasuk negara endemis rabies. Kondisi ini menunjukkan rabies masih menjadi ancaman nyata yang membutuhkan kewaspadaan dan pencegahan sejak dini. Hingga kini, baru delapan provinsi dinyatakan bebas rabies, yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

“Pergerakan hewan pembawa rabies secara ilegal menjadi salah satu jalur utama penyebaran virus. Rabies tidak menular lewat pergerakan manusia, tetapi melalui gigitan hewan pembawa virus. Karena itu, vaksinasi rutin pada anjing, kucing dan monyet sangat krusial,” seru Sri, dikutip dari Kompascom, Selasa (3/2/2026).

Sri Murtini menekankan, vaksinasi massal, sterilisasi hewan jalanan dan edukasi pemilik hewan menjadi strategi jangka panjang. Ia juga mengimbau, masyarakat menghindari kontak langsung dengan hewan liar, terutama anjing dan kucing liar saat berwisata.

Pertolongan Pertama saat Tergigit

Dosen Kedokteran Hewan UGM, drh. Heru Susetya menjelaskan, rabies merupakan penyakit infeksi akut pada sistem saraf pusat. Dimana hampir selalu berakibat fatal, jika gejala klinis sudah muncul. Karena itu, penanganan awal sangat menentukan keselamatan korban.

“Jika seseorang tergigit anjing di daerah endemis rabies, langkah pertama yang wajib dilakukan mencuci luka dengan sabun dan air mengalir. Langkah ini dilakukan selama minimal 15 menit. Tindakan sederhana ini terbukti efektif menurunkan jumlah virus di area luka,” ujarnya, dilansir dari website resmi UGM.

Heru melanjutkan, korban harus segera mendapatkan penanganan medis. Untuk luka ringan, vaksin rabies wajib diberikan. Sementara pada gigitan berat atau luka berdarah, korban perlu mendapat vaksin rabies ditambah Serum Anti Rabies (SAR).

“Vaksinasi tidak boleh ditunda, meski hewan penggigit masih dalam masa observasi. Jangan menunggu hasil pengamatan hewan. Rabies hampir selalu fatal jika terlambat ditangani,” tegas Heru.

Versi Bahasa Inggris

Kunci Pencegahan: Vaksinasi dan Kesadaran

Para ahli sepakat, vaksinasi hewan merupakan kunci utama pencegahan rabies. Selain itu, masyarakat diminta waspada terhadap perubahan perilaku hewan peliharaan. Seperti menjadi agresif, mengeluarkan liur berlebihan, atau menolak makan.

Edukasi sejak dini, terutama kepada anak-anak, penting agar tidak sembarangan mendekati atau mengganggu hewan asing. Dengan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat, ancaman rabies dapat ditekan. (aan/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id