Es Gabus Sudrajat Terbukti Bukan Spons, DPR: Permintaan Maaf Aparat Tak Cukup

Es Gabus Sudrajat Terbukti Bukan Spons, DPR: Permintaan Maaf Aparat Tak Cukup
Pedagang es gabus, Suderajat (49) dituduh aparat menggunakan spons. (ist)

Jakarta, SERU.co.id – Kasus tudingan es gabus berbahan spons terhadap Sudrajat, pedagang asal Depok, terus menuai sorotan meski aparat telah meminta maaf. Insiden di Kemayoran itu memunculkan kritik soal cara bertindak aparat terhadap warga kecil. DPR RI menegaskan, kasus ini tak cukup diselesaikan lewat klarifikasi semata.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen Donny Pramono menyatakan, TNI telah menemui Sudrajat. Terutama untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur dialog kekeluargaan. Ia berharap, polemik tersebut tidak berlarut-larut dan tidak memicu tuntutan lanjutan.

Bacaan Lainnya

“Hasil verifikasi di lokasi menunjukkan es yang dijual Sudrajat berbahan makanan dan aman dikonsumsi. Jadi tudingan awal dinilai keliru. Insiden itu terjadi akibat miskomunikasi antara Babinsa, Bhabinkamtibmas dan warga,” seru Donny, dikutip dari Kompascom, Rabu (28/1/2026).

Polri Dalami Dugaan Pelanggaran Etik

Polda Metro Jaya melalui Kabid Humas, Kombes Budi Hermanto mengatakan, Bidang Propam telah memeriksa Aiptu Ikhwan Mulyadi. Ikhwan merupakan anggota Bhabinkamtibmas yang terlibat dalam kejadian itu.

“Kami mendalami apakah ada pelanggaran etika atau kewenangan yang dilakukan personel,” ujar Buher, sapaan akrabnya.

Ia menegaskan, tidak ditemukan unsur penganiayaan. Meskipun mengakui cara bertindak aparat dinilai keliru dan menimbulkan kontroversi. Atas kejadian tersebut, Polri menyampaikan, permohonan maaf kepada publik dan menegaskan tidak pernah berniat menghambat UMKM.

“Kami memahami kekecewaan publik. Tujuan kami adalah edukasi, bukan mematikan usaha rakyat,” ucap mantan Kapolresta Malang Kota ini.

DPR Sebut Permintaan Maaf Tidak Cukup

Sikap keras dari Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah menilai, penyelesaian kasus ini tidak boleh berhenti pada permintaan maaf. Menurut politisi Fraksi PKB itu, tuduhan es gabus Sudrajat berbahan spons telah terbukti tidak benar berdasarkan hasil uji laboratorium Polres Metro Jakarta Pusat.

“Kalau cukup diselesaikan dengan minta maaf, saya khawatir akan muncul banyak korban serupa. Khususnya dari rakyat kecil akibat arogansi aparat,” tegas Abduh, seperti dilansir dari website resmi DPR RI.

Ia mendesak pimpinan institusi TNI dan Polri menjatuhkan sanksi etik dan disiplin secara adil dan transparan. Abduh juga mendorong lembaga bantuan hukum mendampingi Sudrajat, jika korban memilih menempuh jalur pidana.

“Nama baik Pak Sudrajat harus dipulihkan. Kerugian materiil dan immateriil patut dipertimbangkan untuk diganti. Negara harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Bantuan Terus Datang

Di tengah polemik, bantuan terus mengalir. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor memberikan sembako dan perhatian khusus pada pendidikan anak-anak Sudrajat. Perangkat kecamatan dan desa menyatakan siap membantu anak-anaknya kembali mengenyam pendidikan.

Polres Bogor juga dikabarkan akan memberikan bantuan gerobak. Sementara polisi dan TNI telah mengganti rugi es yang diuji di laboratorium. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) bahkan mengundang langsung untuk bertemu dalam waktu dekat.

Namun bagi Sudrajat, bantuan belum serta-merta menghapus trauma. Ia mengaku, telah berjualan es gabus selama 30 tahun tanpa masalah. Peristiwa Sabtu (24/1/2026) itu membuatnya kehilangan 150 buah es dagangan dan mengalami kekerasan fisik.

“Saya masih takut. Takut kejadian seperti itu terulang,” ujar Sudrajat. (aan/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id