Malang, SERU.co.id – Siang itu, denyut kehidupan baru terasa di tepian sungai yang memisahkan Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, dengan Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen. Sebuah jembatan gantung Termangu (Trenyang – Mangunrejo) kini membentang kokoh, menjadi bukti hadirnya Program 1.000 Jembatan Gantung untuk Indonesia dari pemerintah pusat di Kabupaten Malang.
Keberadaannya bukan sekadar infrastruktur, melainkan jawaban atas penantian panjang warga setempat. Kepala Desa Trenyang, Didik Santoso, menuturkan, lokasi tersebut sejatinya menyimpan jejak sejarah. Pada masa penjajahan, pernah berdiri jembatan penghubung yang kini hanya menyisakan pondasi tua. Seiring waktu, jembatan itu rusak dan akses penyeberangan bergantung pada perahu sederhana.
“Di situ sejarahnya dulu, memang ada jembatan pada waktu zaman penjajahan dan itu jejaknya juga masih ada, itu pondasi yang lama. Dan dulu juga ada akses mungkin penyeberangan itu cuma lewat getek perahu, itu saja. Terus vakum dan akhirnya itu tidak bisa menyeberang,” seru Didik, saat dikonfirmasi, Selasa (28/1/2026).
Harapan warga kembali tumbuh ketika jembatan gantung baru mulai dibangun. Jembatan sepanjang 143 meter dengan lebar 1,2 meter itu dikerjakan melalui kolaborasi TNI, Vertical Rescue Indonesia (VRI), serta gotong royong masyarakat sekitar. Kini, warga menamainya Jembatan Gantung Garuda Termangu, singkatan dari Ternyang–Mangunrejo.
“Pembangunan itu dimulai bulan pertengahan Desember dan alhamdulillah di pertengahan bulan Januari ini 2026, sudah final, sudah selesai. Mungkin sementara sudah bisa dilewati, mungkin terkendala akses (jalan menuju jembatan),” terangnya.
Menurut Didik, manfaat jembatan tersebut langsung dirasakan, terutama oleh anak-anak sekolah dan warga yang beraktivitas ke Kepanjen. Jika sebelumnya perjalanan dari Desa Ternyang ke Mangunrejo bisa memakan waktu hingga 45 menit, kini hanya sekitar 10 menit.
“Sekarang alhamdulillah tidak sampai 10 menit sudah sampai ke kota Kepanjen dan di samping itu, memang juga akses untuk anak-anak sekolah. Zona anak-anak sekolah itu lebih dekat, karena zona kita itu di Kepanjen, bukan di Sumberpucung. Akses jalan sudah dibangun, insya Allah untuk perekonomian dan anak-anak sekolah itu bisa berjalan dengan lancar,” terang Didik.
Meski jembatan telah rampung, tantangan masih ada pada akses jalan menuju lokasi. Pemerintah desa bersama warga telah bersepakat untuk melakukan pembangunan bertahap, sembari mengajukan bantuan ke Pemerintah Kabupaten Malang.
“Kita mengajukan ke pemerintah Kabupaten Malang juga lewat Bapak kita, Bapak Bupati Malang, Pak Sanusi seperti itu dan dinas-dinas terkait juga kita hubungi seperti itu. Insya Allah juga ada donatur nanti yang juga akan mensupport kita. Kita akan laksanakan untuk rabat cor atau paving seperti itu,” bebernya.
Rencananya, jembatan gantung ini akan diresmikan oleh Forkopimda Kabupaten Malang pada Februari 2026. Lebih dari sekadar sarana penyeberangan, desa juga menyiapkan konsep pengembangan wisata berbasis alam di sekitar lokasi.
“Karena view sangat bagus sekali terkait alam, mungkin dengan kuliner dan lain-lain. Nanti tetap dibawa naungan BUMDes dan pengurus serta nanti dikeluarkan oleh desa dan masyarakat,” bebernya.
Antusiasme warga dan pengunjung pun mulai terlihat. Wati, warga Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, datang bersama suaminya hanya untuk melihat langsung jembatan yang ramai dibicarakan.
“Saya penasaran, sehingga jalan-jalan ke sini. Juga mau mencoba jembatan gantung itu,” terang Wati.
Hal serupa diungkapkan Ika, warga Gondanglegi, yang mengetahui keberadaan jembatan tersebut dari media sosial.
“Penasaran jadi saya ke sini, taunya dari TikTok,” jelasnya.
Kini, jembatan gantung Garuda Termangu tak hanya menghubungkan dua desa, tetapi juga menyatukan harapan warga akan akses yang lebih mudah, ekonomi yang bergerak, dan potensi wisata yang mulai tumbuh. (wul/ono)








