Malang, SERU.co.id – Mahasiswa rantau cenderung lebih rentan melakukan upaya percobaan bunuh diri, karena jauh dari keluarga. Kerentanan ini kerap luput terdeteksi oleh sistem pendampingan kampus dalam kesehatan mental para mahasiswa. Karena itu, pencegahan perlu difokuskan pada penguatan dukungan sosial, peran aktif dosen pembimbing dan layanan konseling lebih proaktif.
Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Cahyaning Suryaningrum MSi Psikolog menegaskan, mahasiswa rantau memiliki kerentanan psikologis khas. Perpindahan dari rumah ke lingkungan baru menuntut adaptasi emosional dan sosial yang tidak sederhana. Ketika proses ini tidak diiringi dukungan sosial yang memadai, tekanan dapat terakumulasi secara diam-diam.
“Mahasiswa rantau itu secara alamiah lebih rentan. Mereka jauh dari orang tua dan lingkungan familiar. Jika kemampuan adaptasi dan dukungan sosialnya rendah, risiko problem psikologis akan meningkat,” seru Naning, sapaan akrabnya.
Namun, ruang konseling justru menunjukkan tekanan akademik sering kali bukan akar persoalan. Naning mengungkapkan, banyak mahasiswa datang dengan beban emosional yang telah lama terbentuk dari rumah. Mulai dari konflik keluarga, tekanan ekonomi, hingga pola relasi tidak sehat.
“Tugas kuliah, skripsi, atau nilai akademik sering kali hanya pemicu. Api utamanya sudah ada sejak lama,” ungkapnya.
Naning menekankan, bekal utama mahasiswa bukan sekadar kecerdasan intelektual, tetapi ketahanan mental atau resiliensi. Tanpa mental yang terlatih menghadapi ketidakenakan hidup, mahasiswa mudah terjebak dalam pola pikir sempit saat menghadapi masalah.
“Tekanan akademik itu wajar dan bahkan penting dalam batas tertentu. Yang krusial adalah apakah seseorang telah dibekali makna berjuang. Begitu pun kemampuan bangkit dan kesiapan menghadapi proses jatuh bangun,” tambahnya.
Senada, Dosen Universitas Jambi, Huriyah Padhilah Anasti MPd menilai, tugas-tugas kuliah tidak bisa disalahkan secara berlebihan dalam isu bunuh diri mahasiswa.
“Ibarat api, tugas kuliah itu hanya membuat api membesar. Lemahnya kontrol diri membuat semua masalah menyatu dan terasa tak tertanggungkan,” ujar Huriyah, kepada SERU.co.id, Jumat (30/1/2026).
Daftar Isi
Peran Dosen, BK, Teman Hingga Pemerintah dalam Pencegahan
Fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri menjadi perhatian serius, seperti Jembatan Sukarno Hatta (Suhat) Malang. Upaya pemerintah daerah dengan memberikan pagar pembatas bukan solusi terakhir, namun memerlukan keterlibatan banyak pihak.
Wali Kota Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat MM mengungkapkan, penanganan tidak cukup hanya dengan menambah pagar pengaman di Jembatan Suhat. Upaya pencegahan harus menyentuh akar persoalan melalui pendekatan kesehatan mental, psikologis dan sosial.
“Kalau dari pagar sudah kami lakukan. Tapi yang akan kami coba lagi adalah pendekatan lain (kesehatan mental), karena yang harus diselesaikan itu akarnya,” ucap Wahyu.
Wahyu menegaskan, tanpa penyelesaian masalah berbasis pendekatan kesehatan mental, penambahan fasilitas fisik tidak optimal. Pihaknya akan menggandeng Forum Rektor untuk membahas persoalan kesehatan mental di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa.
Selain itu, Pemkot Malang juga telah berdiskusi dengan lembaga psikologi dan kejiwaan, guna merumuskan langkah pencegahan yang lebih komprehensif. Pasalnya, upaya penambahan fasilitas fisik tidak menyelesaikan persoalan secara tuntas.
“Menghadapi masyarakat sekarang harus dengan pendekatan-pendekatan psikologi. Terlebih ketika seseorang sudah dalam kondisi labil, di situlah peran pendampingan sangat dibutuhkan,” tegas pria nomor satu di jajaran Pemkot Malang ini.
Senada, lanjut Huriyah, individu yang berada dalam kondisi psikologis terdesak cenderung berpikir kaku dan terpengaruh paparan cerita sebelumnya. Pada titik ini, lingkungan memegang peran penting dalam membentuk persepsi.
Upaya preventif dari dosen memang tidak mudah. Tidak realistis mengharapkan satu dosen memahami kondisi psikologis seluruh mahasiswa. Namun, di sinilah peran dosen pembimbing akademik (PA) seharusnya dioptimalkan.
“Dosen PA idealnya berfungsi seperti wali kelas, sekaligus guru BK. Bukan sekadar memvalidasi KRS, tetapi menjadi ruang aman untuk konsultasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, kepekaan dosen PA terhadap tanda-tanda kecil dapat menjadi pintu masuk memahami persoalan mahasiswa secara utuh. Seperti nilai yang tiba-tiba anjlok, keterlambatan kronis, hingga status UKT bermasalah.
Di tengah kompleksitas ini, lanjut Naning, BK UMM menekankan pendekatan pemberdayaan. Konseling tidak dimaknai sebagai proses mengenali kekuatan diri dan membangun mekanisme koping yang sehat. Mulai dari olahraga, musik, hingga aktivitas sederhana yang memberi ruang bernapas bagi emosi.
Lebih jauh, lingkungan terdekat seperti teman kos dan teman sebaya disebut sebagai garda terdepan pencegahan. Mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga rahasia, dan tidak meremehkan dapat menjadi tindakan kecil dengan dampak besar.
“Sebab pada akhirnya, setiap masalah selalu punya jalan keluar. Yang paling berbahaya bukanlah tekanan itu sendiri, melainkan ketika pikiran dibiarkan tertutup oleh keputusasaan,” pungkas Naning
Berita Inspiratif Media Jadi Pemulihan Krisis Mental
Di sisi lain, peran media juga tak luput dari sorotan. Presiden Asosiasi Indonesia untuk Pencegahan Bunuh Diri, Dr Sandersan Onie mengingatkan, pemberitaan bunuh diri tidak sensitif justru berpotensi memperburuk situasi. Ia menyinggung teori efek Werther, yakni fenomena bunuh diri yang ditiru (copycat suicide) akibat publikasi media yang detail dan masif.
“Karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dewan Pers telah mengeluarkan pedoman ketat terkait pemberitaan bunuh diri. Jika berita memuat detail metode, lokasi spesifik, atau bahkan surat bunuh diri, risiko peniruan akan meningkat,” kata Sandersan, seperti dikutip dari BBC Indonesia.
Sebaliknya, ia mendorong media mengedepankan efek Papageno. Yakni menampilkan kisah inspiratif dan harapan, pemulihan dan cara menghadapi krisis sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
Sandersan juga menyoroti kompleksitas kesehatan mental generasi muda saat ini. Data menunjukkan peningkatan depresi dan kecemasan di kalangan anak muda. Seiring dunia yang semakin kompetitif dan tidak ramah.
“Inflasi meningkat, tekanan hidup makin berat, dunia terasa semakin sulit. Ini bukan generasi lemah, tapi generasi yang hidup dalam situasi lebih menekan,” ujarnya. (aan/rhd)








