Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Dirawat Usai Diduga Keracunan MBG Menu Soto Ayam

Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Dirawat Usai Diduga Keracunan MBG Menu Soto Ayam
Ratusan siswa diduga keracunan usai santap menu MBG. (ist)

Kudus, SERU.co.id – Ratusan siswa SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, diduga keracunan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mencatat 118 siswa harus dirawat dengan keluhan mual, muntah, nyeri perut dan diare. Menu MBG yang diduga menjadi pemicu berasal dari SPPG Purwosari, terdiri atas soto ayam suwir, tempe dan sayur tauge.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo mengatakan, jumlah tersebut meningkat signifikan dari laporan awal yang hanya mencatat sekitar 70 siswa terdampak. Ia menyebut, pendataan masih terus dilakukan seiring bertambahnya laporan dari pihak sekolah dan rumah sakit.

Bacaan Lainnya

“Data terakhir yang kami terima, siswa yang dirawat mencapai 118 orang. Tersebar di tujuh rumah sakit,” seru Mustiko, Kamis (29/1/2026).

Adapun rumah sakit rujukan yang menangani para siswa meliputi RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus (28 siswa). Kemudian RS Mardi Rahayu (22), RS Sarkies Aisyiyah (19), RSI Kudus (14), RS Kumala Siwi (13), RS Aisyiyah (13) dan RS Kartika (9).

Menu MBG yang diduga menjadi pemicu gangguan kesehatan tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari. Dengan hidangan berupa soto ayam suwir, tempe goreng, sayur tauge dan sambal kecap.

Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam mengungkapkan, pihaknya menerima laporan pertama dari penanggung jawab MBG di sekolah. Laporan tersebut menyebutkan sejumlah siswa mengalami diare. Bahkan satu siswa harus segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Begitu menerima laporan, kami langsung turun ke sekolah bersama tim ahli gizi dan petugas laboratorium. Khususnya untuk melakukan penelusuran awal,” kata Nasihul, seperti dikutip dari Murianewscom.

Tim kemudian memfokuskan pemeriksaan pada seluruh komponen menu MBG yang dibagikan. Sampel makanan telah dikirim ke laboratorium guna mendeteksi kemungkinan kontaminasi atau pelanggaran standar keamanan pangan. Hingga kini, hasil uji laboratorium masih menunggu untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.

Sebagai bentuk tanggung jawab, SPPG Purwosari menyatakan siap menanggung seluruh biaya pengobatan siswa terdampak. Nasihul juga menyampaikan permohonan maaf kepada siswa, orang tua dan pihak sekolah. Evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan hingga distribusi makanan juga dijanjikan akan dilakukan.

“Dari total 2.173 porsi MBG yang kami distribusikan ke 13 sekolah, hanya SMA 2 Kudus yang melaporkan gangguan kesehatan massal. Namun evaluasi tetap kami lakukan secara menyeluruh,” tegas Nasihul.

Sementara itu, dokter jaga IGD RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Muhammad Resa Perkasa menjelaskan, mayoritas siswa datang dengan keluhan gangguan pencernaan. Yakni dalam rentang waktu pukul 09.30 hingga 10.00 WIB.

“Keluhannya mual, muntah, nyeri perut dan diare. Secara klinis mengarah pada dugaan keracunan makanan. Namun penyebab pastinya masih dalam pemeriksaan,” ujarnya.

Menurut dr. Resa, penanganan pasien dilakukan dengan sistem triase berdasarkan tingkat kegawatdaruratan. Meski terdapat beberapa tingkat urgensi, seluruh pasien dinyatakan tidak dalam kondisi darurat.

Pihak sekolah juga mengungkap fakta penting, keluhan justru lebih dulu dirasakan oleh para guru. Wakil Kepala SMA Negeri 2 Kudus Bidang Kehumasan, Dwiyana menyebut, menu MBG dibagikan pada Rabu (28/1) sekitar pukul 11.45 WIB, setelah diterima sekolah pukul 11.15 WIB.

“Keluhan awal sakit perut dan diare justru muncul di kalangan guru. Setelah itu, siswa mulai mengalami gejala serupa,” katanya, dikutip dari genpico.

Dari total 1.178 siswa dan 98 guru serta tenaga kependidikan, sekitar 600 siswa dilaporkan mengalami gejala. Namun sebagian besar memilih menjalani perawatan mandiri di rumah.

Menanggapi insiden ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG. Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin menegaskan, pemerintah tidak ingin berspekulasi sebelum hasil pemeriksaan lapangan diperoleh.

“Kita cek dulu, kita evaluasi. Apakah persoalannya di makanan atau distribusinya,” pungkasnya. (aan/mzm)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id