Bandung Barat, SERU.co.id – Tim DVI Polda Jawa Barat berhasil mengidentifikasi 44 korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Ahli geologi memperingatkan ancaman longsor serupa mengintai kawasan kaki Gunung Burangrang akibat kondisi geologi rapuh dan curah hujan tinggi. Sementara itu, pencarian korban lain masih berlangsung di tengah duka pemakaman massal.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan, proses identifikasi dilakukan secara bertahap. Khususnya dengan mengedepankan ketelitian dan kehati-hatian sesuai standar operasional.
“Sebanyak 44 body pack telah berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI dan pencarian korban belum berakhir. Tim SAR gabungan masih menyisir lokasi longsor untuk menemukan korban yang hingga kini dinyatakan hilang. Proses identifikasi pun terus berjalan seiring dengan upaya evakuasi di lapangan,” seru Hendra, dikutip dari Kompascom, Minggu (1/2/2026).
Menurut Hendra, kerja Tim DVI dilakukan secara maksimal dan profesional agar setiap korban dapat teridentifikasi secara akurat. Polda Jawa Barat bersama unsur TNI, pemerintah daerah dan relawan juga memastikan dukungan logistik hingga pendampingan psikologis.
Untuk memperkuat pencarian di area sulit dijangkau, Unit K9 Direktorat Samapta Polda Jawa Barat terus diterjunkan. Penyisiran dilakukan setelah adanya laporan warga mengenai bau menyengat. Diduga berasal dari korban tertimbun material longsor di wilayah ujung C3.
“Unit K9 kami kerahkan untuk memperkuat proses pencarian, khususnya di area yang sulit dijangkau personel. Setiap laporan warga kami respons secara cepat agar proses pencarian berjalan optimal,” kata Hendra.
Di tengah proses pencarian, duka mendalam menyelimuti warga. 13 jenazah korban longsor telah dimakamkan massal di TPU Kampung Barunyatuh, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Prosesi pemakaman berlangsung haru dan diwarnai isak tangis keluarga.
Ketua RW 06 Kampung Barunyatuh, Jajang Rohendar mengatakan, seluruh korban yang dimakamkan di TPU tersebut merupakan warga Kampung Pasirkuda, Desa Pasirlangu. Dikatakannya, itu wilayah terdampak paling parah saat longsor menerjang pekan lalu.
“Berdasarkan kesepakatan bersama keluarga, TPU Barunyatuh kami tetapkan sebagai lokasi pemakaman massal. Sampai siang ini, sudah ada 13 korban yang dimakamkan di sini secara layak,” ujarnya.
Di balik tragedi ini, para ahli mengingatkan adanya ancaman longsor susulan dan potensi bencana serupa di kawasan kaki Gunung Burangrang. Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Anjar Heriwaseso menyebut, bencana longsor di Cisarua membuka fakta kerawanan baru bagi warga yang tinggal di sekitar gunung tersebut.
“Kalau kita asumsikan, materialnya sama karena berasal dari gunung api tua,” kata Anjar saat ditemui di kantor Pusat. Kalau hujan di atas 200 milimeter per hari, kemungkinan besar akan terjadi longsor di daerah itu,” ujarnya, seperti dilansir dari Tempo.
Lintasan longsor di Desa Pasirlangu mengikuti jalur air dari hulu yang dikenal sebagai alur liar sungai. Jalur ini menampung air hujan, mata air dan sumber lain. Dimana kemudian berkumpul di daerah tangkapan air sebelum meluncur ke bawah lereng.
“Kondisi tanah Gunung Burangrang sendiri tergolong rentan. Struktur geologinya merupakan endapan pegunungan vulkanik tua yang tidak terkonsolidasi. Jadi mudah bergerak saat jenuh air,” ungkap Anjar.
Anjar mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap sejumlah tanda awal longsor. Air yang mengalir keruh menandakan erosi tanah di lereng. Sementara aliran air yang tiba-tiba terhenti atau menghilang justru bisa menjadi sinyal bahaya lebih besar,
“Itu dapat menandakan adanya longsoran kecil yang menutup jalur air. Pemantauan jalur air di lembah-lembah lain dengan karakteristik morfologi dan geologi serupa sangat penting. Terutama untuk mengantisipasi bencana lanjutan,” pungkasnya. (aan/mzm)








