Malang, SERU.co.id – Di tengah pesatnya arus informasi digital, krisis reputasi kini tidak lagi dihitung dalam hitungan hari, melainkan jam. Merespons tantangan tersebut, Parimaya berkolaborasi dengan Perhumas Malang Raya menyelenggarakan Crisis Simulation Lab bertajuk “2 Hours After It Goes Viral” di Hotel Alana Malang, Sabtu (31/1/2026).
Acara ini dirancang sebagai laboratorium praktik bagi para praktisi Public Relations (PR), Corporate Communication, hingga industri hospitality untuk menguji ketangkasan mereka dalam menghadapi tekanan komunikasi publik. Berbeda dengan seminar konvensional, pelatihan ini mengedepankan simulasi berbasis skenario nyata yang memaksa peserta terjun langsung ke lapangan.
Dalam sesi Press Conference Simulation, peserta ditantang berperan sebagai narasumber yang harus menjawab pertanyaan kritis dan tajam. Uniknya, simulasi ini melibatkan rekan-rekan jurnalis asli, sehingga tekanan atmosfer saat menghadapi media terasa sangat autentik. Assoc. Prof. Maulina Pia Wulandari, Ph.D., pakar komunikasi dari Universitas Brawijaya sekaligus fasilitator utama menegaskan, kecepatan mengambil keputusan adalah kunci utama dalam manajemen krisis.
”Dalam krisis, tidak ada ruang untuk berpikir terlalu lama. Keputusan harus diambil cepat, namun tetap bertanggung jawab. Melalui simulasi ini, peserta belajar bagaimana rasanya mengambil keputusan di bawah tekanan,” seru Prof. Pia.
Cluster Sales & Marketing Manager Alana Hotel Malang, Deni FJ, menambahkan, kesiapan industri sangat vital dalam menjaga reputasi bisnis saat isu negatif mulai menyebar. Sebagai bekal strategis, peserta dibekali framework berupa Crisis Management Plan (CMP) Canvas untuk menyusun langkah-langkah yang terukur.
Sementara itu, Ketua Pariwisata Malang Raya (Parimaya), Adinda Zaeni menjelaskan, peserta berasal dari berbagai sektor, mulai dari perhotelan, pariwisata, dunia pendidikan, hingga instansi pemerintah. Ia mencontohkan krisis kecil seperti overbooking hotel yang di era digital bisa membesar dan menghilangkan kepercayaan publik jika tidak segera ditangani.
”Kami berharap teman-teman humas bisa segera menyelesaikan krisis yang terjadi dan tidak membiarkannya berlarut-larut. Tujuannya agar reputasi properti atau tempat wisata di Malang Raya tetap terkendali, sehingga angka kunjungan wisatawan tidak menurun,” tandas Adinda.
Melalui inisiatif ini, Parimaya dan Perhumas Malang Raya berkomitmen melahirkan budaya crisis-ready (siap krisis) di berbagai organisasi. Kolaborasi antara akademisi, praktisi industri, dan media diharapkan mampu memperkuat ketahanan reputasi organisasi di masa depan yang semakin kompleks. Dengan praktik langsung ini, para peserta kini memiliki pemahaman konkret dan tahapan yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan saat krisis benar-benar menghantam institusi mereka. (dik/mzm)








