Malang, SERU.co.id – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menyampaikan, dari temuan 23 kasus superflu, sebanyak 18 kasus berasal dari Kota Malang. Ia mengingatkan, pentingnya penggunaan protokol kesehatan (prokes), terutama bagi yang sakit dan kelompok rentan.
Kepala Dinkes Jatim, Prof Dr dr Erwin Astha Triyono SpPD-KPTI FINASIM mengungkapkan, salah satu lokasi site sentinel surveilans Kemenkes berada di Kota Malang. Tepatnya, di Puskesmas Dinoyo dan RSUD dr Saiful Anwar (RSSA).
“Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan sebanyak 62 kasus dari hasil kegiatan surveilans. Untuk Jawa Timur terdapat 23 sampel, dengan 18 di antaranya berasal dari Kota Malang, sementara sisanya dari Bali, NTB dan NTT,” seru Erwin, Sabtu (10/1/2025).
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, 18 kasus di Kota Malang tersebut seluruhnya merupakan data lama yang diambil pada periode September hingga November 2025. Rinciannya, satu kasus pada September, dua kasus pada Oktober, dan 15 kasus pada November.
“Temuan ini belum mencerminkan kondisi secara menyeluruh di tingkat provinsi maupun nasional. Semua kondisinya baik dan sembuh sempurna, jadi ini bukan kasus baru,” ungkapnya.
Erwin menjelaskan, virus yang ditemukan merupakan hasil mutasi Influenza A subtipe H3N2 clade 2k yang kemudian populer disebut sebagai superflu. Menurutnya, mutasi virus merupakan hal yang wajar, terutama di wilayah tropis yang memiliki banyak mikroorganisme.
“Kita hidup di daerah tropis. Virus, bakteri, dan jamur juga mengalami mutasi. Jadi temuan ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan,” tuturnya.
Ia menekankan, prinsip utama bagi masyarakat adalah menjaga kesehatan dan memutus rantai penularan. Istirahat cukup, asupan nutrisi seimbang dan olahraga menjadi kunci menjaga daya tahan tubuh.
“Bagi masyarakat yang sedang sakit atau termasuk kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil dan penderita penyakit kronis, sebaiknya pakai masker. Tidak harus semua orang memakai masker terus-menerus,” jelasnya.
Terkait daya tular, Guru Besar Universitas Airlangga itu mengatakan, influenza merupakan penyakit yang relatif mudah menular melalui udara. Namun, tidak semua paparan akan berkembang menjadi penyakit jika imunitas tubuh dalam kondisi baik.
“Kalau kondisi tubuh kita baik, enggak semudah itu jadi penyakit. Pencegahan tetap penting, tapi penguatan imunitas juga kunci,” ujarnya.
Mengenai vaksinasi, ia mengatakan vaksin influenza diprioritaskan bagi kelompok rentan dan diberikan setahun sekali. Pemerintah telah menyiapkan layanan vaksinasi influenza di fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas.
“Bagi yang punya akses dan kebutuhan, silakan vaksin. Bagi yang belum, perkuat imunitas dengan pola hidup sehat,” imbuhnya.
Erwin juga memastikan, berdasarkan keterangan Kemenkes, tingkat keparahan superflu tidak lebih berbahaya dibanding influenza biasa dan Covid-19. Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan melalui strategi surveilans yang terus dilakukan.
“Kasus bisa naik turun. Bisa saja muncul lagi di Januari atau Februari. Yang penting kita terus mengawasi dan masyarakat tetap menjaga kesehatan,” pungkasnya. (bas/rhd)








