Batu, SERU.co.id – Pasca dideklarasikan oleh penggiat seni dari sembilan desa, Lembaga Adat, Budaya, dan Seni Bumiaji (LABUNI BUMIAJI) langsung tancap gas menyusun rencana kerja (Renja) strategis. Forum yang baru diresmikan Rabu (7/1/2025) ini telah memetakan target jangka pendek hingga jangka panjang untuk memastikan kekayaan tradisi di Kecamatan Bumiaji tetap lestari.
” LABUNI BUMIAJI juga akan melakukan pendataan menyeluruh terhadap lembaga adat, sanggar seni, tokoh adat, hingga pelaku budaya di seluruh wilayah Kecamatan Bumiaji,” seru Thomas Maydo, Camat Bumiaji yang hadir dalam pertemuan yang digelar di Dusun Dadapan, Desa Pandanrejo, Selasa (7/1/2026) malam.
Dalam kesempatan tersebut, LABUNI BUMIAJI menyepakati tahapan progresif untuk menghidupkan kembali “roh” kebudayaan lokal. Mengawali langkahnya, dalam satu tahun pertama, LABUNI BUMIAJI akan fokus pada penguatan internal dan pendataan. Rencana kerja jangka pendek ini mencakup pengesahan resmi lembaga di tingkat Kecamatan.
Thomas menambahkan, memasuki program jangka menengah, LABUNI BUMIAJI memproyeksikan diri sebagai penggerak kreativitas publik. Target utama dalam kurun waktu 2–3 tahun ke depan meliputi penyelenggaraan festival budaya perdana yang melibatkan seluruh elemen masyarakat dari 9 desa.
Selain itu juga pendokumentasian adat dan seni dalam bentuk buku, video, serta arsip digital agar bisa diakses oleh generasi mendatang.
” LABUNI BUMIAJI juga akan menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk pelatihan dan pembinaan generasi muda secara intensif,” cetus Thomas yang didapuk sebagai Pelindung Forum.
Untuk rencana jangka panjang, lanjut Thomas, forum ini menargetkan penguatan identitas Bumiaji sebagai destinasi pariwisata berbasis kearifan lokal. Hal ini mencakup pengembangan pusat kegiatan adat yang permanen serta memastikan regenerasi kepengurusan agar pelestarian budaya tetap berkelanjutan. Pihaknya berkomitmen menjadi fasilitator bagi rencana-rencana tersebut.
”Pembentukan LABUNI BUMIAJI adalah momen bersejarah. Meski kami mendukung secara administratif, roh pergerakan ini tetap berada di tangan masyarakat. Kami ingin budaya bukan hanya jadi tontonan, tapi juga aset ekonomi kreatif yang meningkatkan kesejahteraan warga,” imbuh Thomas Maydo.
Thomas juga berpesan agar Renja yang disusun mampu menyasar anak-anak muda melalui pendekatan pendidikan karakter.
“Jadikan budaya sebagai sumber kebanggaan agar identitas kita sebagai orang Bumiaji yang santun dan kreatif tetap terjaga,” pungkasnya. (dik/ono)








