Malang, SERU.co.id – Datang dari keluarga sederhana di Padangsidimpuan Sumatra Utara, Nur Anisah Rizky Harahap merantau ke Malang untuk berkuliah di Universitas Brawijaya. Tekad dan konsistensi mengantarkannya meraih berbagai prestasi nasional hingga internasional. Ia menuntaskan S-1 dalam 7 semester dan S-2 dengan IPK 3,98 pada Prodi Teknologi Industri Pertanian.
Perjalanannya tidak sederhana, Anisah memutuskan merantau ke Kota Malang dengan tekad kuat mengubah masa depan. Keputusan itu sempat membuat keluarganya ragu, apalagi sebagai anak perempuan dan paling kecil. Namun, dukungan penuh akhirnya mengalir setelah ia menjelaskan visi dan tujuannya.
“Perlahan keraguan itu berubah jadi restu. Saya merasa punya tanggung jawab besar setelah keluarga memberi kepercayaan untuk merantau. Itu yang membuat saya harus berhasil,” seru Anisa, sapaannya, Sabtu (29/11/2025).
Anisah menuntaskan studi S-1 hanya dalam 7 semester dengan IPK 3,61. Ia juga menyelesaikan studi S-2 lewat program fast track dengan IPK 3,98 selama 11 bulan 8 hari.
Deretan prestasi dan pengalamannya pun impresif, yakni:
1. Bronze Medal Creative Industry – BMC Competition (2023)
2. Juara 2 Business Plan Olahan Nanas (2022)
3. Medali Perak Olimpiade Sains Kimia se-Indonesia (2020)
4. Pendanaan PKM-K Kemendikbud 2021
5. Penilaian sangat baik sebagai Asisten Laboratorium di tiga bidang
6. Founder produk yoghurt plant-based “O’nomu”
Ia juga menjadi presenter di tiga konferensi internasional. Mulai dari University Consortium Graduate Forum SEARCA (2025), ACIAR (2025) hingga APISWEA International Conference (2025).
Di luar kampus, ia aktif membantu riset sebagai Asisten Dosen dan staf di Centre of Excellence Bioenergy and Biorefinery UB. Ia juga pernah menjadi Junior Researcher BRIN dan Intern Researcher di Kyungpook National University, Korea Selatan.
Tumbuh di lingkungan agraris membuatnya memahami besarnya potensi biomassa, agroindustri dan bioenergi Indonesia. Dari situlah muncul keinginan kuat untuk berkontribusi lewat riset dan inovasi.
Baca juga: UB Resmikan Work Station UNESCO, Wayang Sutasoma Jadi Panggung Diplomasi Budaya
“Agroindustri Indonesia sangat luas peluangnya. Saya ingin menjadi bagian dari solusinya. Terutama di bidang pemanfaatan biomassa dan energi berkelanjutan,” kata alumni S-2 Teknologi Industri Pertanian ini.
Anisa menegaskan, UB memberinya fondasi akademik kuat. Ia bahkan tak ragu mengatakan, memilih UB adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidupnya.
Meski tangguh, kerinduan pada rumah tak pernah hilang. Ia mengaku, paling rindu suasana keluarga, masakan rumah dan teman-temannya di Sumatra Utara.
“Rindu pasti ada, tapi saya harus bisa mengelolanya. Saya datang ke Malang untuk mencapai tujuan, dan saya harus fokus. Setiap tahun, saat Idulfitri, saya selalu menyempatkan untuk pulang,” ujar anak bungsu dari enam bersaudara tersebut.
Setelah lulus, ia berencana melanjutkan karier sebagai peneliti di bidang bioindustri, bioteknologi, atau keberlanjutan agroindustri. Ia juga membuka peluang untuk studi S-3 di luar negeri.
“Jangan tunggu siap dan jangan takut melangkah keluar zona nyaman. Ambil semua kesempatan, mulai dari riset, kompetisi, organisasi hingga magang. Kuliah bukan hanya mengejar nilai, tapi membangun karakter dan kemampuan diri,” pesannya bagi mahasiswa lain. (aan/mzm)








