Long Weekend Imlek di Kota Batu, Okupansi Hotel Tidak Berpengaruh Signifikan

Salah satu hotel di Kota Batu dalam suasana Tahun Baru Imlek. (Seru.co.id/dik) - Long Weekend Imlek di Kota Batu, Okupansi Hotel Tidak Berpengaruh Signifikan
Salah satu hotel di Kota Batu dalam suasana Tahun Baru Imlek. (Seru.co.id/dik)

Batu, SERU.co.id – Sepanjang Februari ini tercatat sejumlah tanggal merah, yaitu Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, pada Kamis (8/2/2024) dan Imlek, pada Sabtu (10/2/2024) serta Pemilu, Rabu (14/2/2024). Namun, hari libur yang jaraknya berdekatan itu ternyata tidak begitu berpengaruh pada tingkat hunian hotel di Kota Batu.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) BPC Batu, Sujud Hariadi mengatakan, okupansi hotel di Kota Batu masih tergolong rendah meskipun banyak tanggal merah. Menurutnya, hal itu terjadi karena masyarakat lebih memilih mempersiapkan liburan pada perayaan Idul Fitri 1445 H yang sudah relatif dekat. Ditambah lagi, pekan inj merupakan puncak kampanye akbar Pemilu 2024 yang berlangsung di seluruh daerah.

Bacaan Lainnya

“Hingga saat ini, tingkat okupansi hotel rata-rata masih berada pada angka 50 persen,” serunya.

Baca juga: Dandim 0833 Ajak Prajurit Meneladani Nabi Muhammad SAW Melalui Isra Mi’raj

Menurut Sujud, masa kampanye dapat membuat banyak masyarakat meragukan keputusan untuk bepergian jauh. Karena muncul kekhawatiran, perjalanan mereka akan terhambat oleh konvoi massa kampanye. Namun, situasinya bisa berubah jika long weekend ini jatuh pada masa tenang atau pasca hari pencoblosan Pemilu 2024.

“Jika situasinya seperti itu, okupansi hotel pada bulan Februari ini dapat meningkat,” ungkapnya.

Sujud menambahkan, selama libur panjang Isra’ Mi’raj dan Tahun Baru Imlek 2024, pengelola hotel sengaja tidak menaikkan room rate. Harga sewa kamar hotel di Kota Batu tetap dipertahankan seperti pada hari biasa agar terjangkau bagi masyarakat. Terlebih lagi, berdasarkan pantauan SERU.co.id, kebanyakan tamu yang berkunjung ke Batu rata-rata hanya mengambil one day visit saja.

Salah satunya Ibu Deasy, salah seorang wisatawan asal Purbalingga yang mengaku datang ke Kota Batu hanya untuk berkunjung sehari. Selebihnya ia dan keluarga melanjutkan perjalanan menuju Kota Surabaya dan ke Yogyakarta. Kepada SERU.co.id ia mengaku memilih menginap di Surabaya karena lebih terjangkau.

“Kalau saya lihat di aplikasi pemesanan kamar, harga menginap di hotel di Kota Batu mahal-mahal, saya nginap di Surabaya saja,” pungkasnya.

Baca juga: Pariwisata Meningkat, Okupansi Hotel Masih 40 Sampai 70 Persen

Sementara itu, PHRI Kota Batu mencatat, puncak kunjungan biasanya terjadi pada bulan Desember dan Januari, terutama selama perayaan Natal dan Tahun Baru, serta saat libur sekolah pada bulan Mei-Juni dan libur lebaran Idul Fitri.

Pada periode tersebut, okupansi hotel dapat mencapai 90 persen dengan tarif yang meningkat secara signifikan.

“Jika libur panjang kali ini bertepatan dengan periode kampanye yang tenang atau setelah pencoblosan, kemungkinan besar akan ada banyak tamu. Namun, tetap tidak dapat menyaingi periode puncak kunjungan,” pungkasnya. (dik/mzm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *