Jakarta, SERU.co.id – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menerbitkan surat resmi yang menegaskan posisi PDIP sebagai partai penyeimbang. Megawati menegaskan, sikap tersebut bukan berarti menjadi oposisi terhadap pemerintahan Prabowo Subianto. PDIP menyatakan akan mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan mengkritik kebijakan yang dinilai tidak sejalan dengan kepentingan publik.
Surat bernomor 1275/IN/DPP/V/2026 itu ditandatangani pada 1 Juli 2026, berjudul “Penjelasan Ketua Umum PDI Perjuangan Tentang Kedudukan PDI Perjuangan Sebagai Partai Penyeimbang dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia”. Keaslian dokumen tersebut dikonfirmasi oleh Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat.
Dalam surat tersebut, Megawati menegaskan, posisi ini telah disampaikan sejak Kongres VI PDIP di Badung, Bali, pada 1 Agustus 2025. Ia menjelaskan, Indonesia menganut sistem presidensial yang tidak mengenal pembagian kaku antara blok pendukung dan blok oposisi.
“Demokrasi Indonesia bukanlah demokrasi blok-blokan kekuasaan. Melainkan demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan rakyat dan supremasi konstitusi,” seru Megawati.
Megawati menjelaskan, dalam sistem presidensial, keberlangsungan pemerintahan tidak bergantung pada dukungan mayoritas di parlemen. Presiden hanya dapat diberhentikan melalui mekanisme pemakzulan sesuai konstitusi. Bukan semata-mata karena kehilangan dukungan politik di DPR.
Ia juga mengaitkan konsep partai penyeimbang dengan pemikiran ilmuwan politik Giovanni Sartori dalam buku Parties and Party Systems: A Framework for Analysis. Menurutnya, PDIP mengadopsi konsep responsible opposition. Yakni menjalankan fungsi pengawasan dan kritik terhadap pemerintah dengan tetap mengedepankan tanggung jawab menjaga stabilitas negara dan kepentingan rakyat.
“Atas dasar pemahaman konstitusional, pengalaman historis dan landasan teoretis tersebut, PDI Perjuangan menggunakan istilah ‘partai penyeimbang’,” tegasnya.
Megawati menambahkan, politik harus menjadi sarana mewujudkan demokrasi berkeadilan, bukan sekadar memperebutkan kekuasaan. Sebagai penyeimbang, PDIP akan mendukung kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyat. Begitu juga mengkritik jika kebijakan tersebut merugikan kepentingan masyarakat.
“PDI Perjuangan tidak menempatkan diri sebagai kekuatan yang menolak pemerintah secara apriori,” pungkasnya. (aan/mzm)









