Malang, SERU.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kegiatan Gladi Lapang, guna kuatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi resiko bencana. Kegiatan tersebut didukung oleh tiga dokumen perencanaan yang saling berkaitan, seperti Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana (RPKB), Rencana Kontingensi (RenKon) dan Rencana Operasi (RENOPS).
Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib membeberkan, melalui latihan yang melibatkan berbagai instansi dan warga lokal ini, diharapkan kesiapsiagaan tidak hanya dituangkan dalam dokumen perencanaan. Namun juga harus diiringi dengan tindakan nyata di lapangan.
“Sinergi lintas sektor harus terus diperkuat. Jangan sampai ego sektoral menghambat proses penanganan darurat. Latihan ini adalah bentuk investasi keselamatan,” seru Lathifah.
Semnetara itu, Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pangarso Suryotomo membeberkan, perencanaan kesiapsiagaan yang dibangun dalam bentuk RenKon sangat perlu dilakukan. Mengingat Gladi Lapang atau Field Training Exercise (FTX) ini bukan hanya sebatas latihan saja, namun juga bekal kesiapan petugas dan masyarakat dalam menanggulangi bencana.
“Gladi bukan sebatas latihan, tapi untuk menguji RenKon. Tugas dan peran dalam gladi harus dihayati dengan baik. Kelak jika ada bencana yang terdampak langsung adalah masyarakat, mereka harus dilindungi dan diselamatkan,” tutur Pangarso.
Pangarso berharap, setelah kegiatan ini harusnya akan ada kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Agar diketahui komunikasi darurat seperti apa yang akan ditempuh agar masyarakat tahu bahwa bencana telah terjadi. Sehingga mereka paham betul saat melakukan proses evakuasi dijalankan, terutama bagi warga yang masih bersikukuh untuk bertahan di tempat tinggalnya.
Dirinya menyebut, memobilisasi komunitas relawan di area yang berisiko terdampak bencana juga menjadi kekuatan tersendiri dalam penanggulangan bencana. Selain itu, koordinasi antar wilayah perlu ditata dengan baik pula, karena terkadang dampak bencana melewati batas suatu kabupaten atau provinsi. Mengingat bencana erupsi gunung berapi kerap menutup akses suatu daerah ke beberapa daerah lainnya.
Kalaksa BPBD Kabupaten Malang, Purwoto menambahkan, meskipun kegiatan simulasi tersebut berjalan dengan lancar dan sukses. Pihaknya berharap keterlibatan semua pihak sangat perlu ditingkatkan.
“Gladi telah berlangsung dengan baik dan lancar. Meski begitu, koordinasi dan kinerja setiap organisasi perangkat daerah yang terlibat penanggulangan bencana tetap perlu ditingkatkan,” ungkapnya.
Dirinya menyebut, urusan kemanusiaan dan kebencanaan merupakan tanggung jawab bersama yang melintasi batas-batas wilayah. Sesuai dengan paradigma modern, penanggulangan bencana tidak bertumpu pada pemerintah atau BPBD semata, tetapi perlu bergerak bersama dalam bingkai kolaborasi multipihak.
Sehingga kegiatan gladi lapang ini turut melibatkan berbagai unsur pentahelix, seperti organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang, TNI-Polri, BPBD Provinsi Jawa Timur. Kemudian BPBD Kota Malang, BPBD Kota Batu, organisasi relawan, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat.
Dimana pelaksanaan Gladi Lapang ini adalah bentuk kerja sama antara BPBD Kabupaten Malang dengan Pemerintah Australia melalui program penguatan ketangguhan bencana.
Selanjutnya, hasil simulasi akan dijadikan bahan evaluasi untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor di lingkungan Pemerintah Malang dan daerah sekitarnya. Terutama dalam menyamakan persepsi, mengasah keterampilan dan mempererat jejaring komunikasi antar instansi. Terutama dalam menentukan jalur evakuasi, titik pengungsian serta mekanisme distribusi logistik.(wul/mzm)









