Polinema Pasang Rambu Lalu Lintas Lensa Cembung Reduksi Blind Spot di Lowokwaru

Polinema Pasang Rambu Lalu Lintas Lensa Cembung Reduksi Blind Spot di Lowokwaru
Tim PkM Teknik Sipil Polinema serah terima kepada Ketua RT 07 RW 09, usai memasang rambu lalu lintas lensa cembung. (Humas Polinema)

Malang, SERU.co.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema) melaksanakan pemasangan rambu lalu lintas lensa cembung. Terletak di RT 07 RW 09 Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang, sebagai upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan warga.

Salah satu anggota tim, Ir. Dwi Ratnaningsih ST MTbIPM ASEAN Eng menyampaikan, keselamatan berlalu lintas tidak hanya menjadi perhatian di jalan raya. Tetapi juga perlu diwujudkan pada jalan lingkungan yang setiap hari digunakan masyarakat untuk beraktivitas.

Bacaan Lainnya

“Persimpangan dengan keterbatasan jarak pandang (blind spot) masih menjadi salah satu penyebab meningkatnya potensi konflik antarpengguna jalan,” seru Dwi Ratnaningsih.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema) ini, beranggotakan:

• Ir. Dwi Ratnaningsih ST MTbIPM ASEAN Eng
• Ir. Wahiddin ST MT IP ASEAN Eng
• Sitti Safiatus R
• Mona Shinta Safitri ST MT
• Devy Zettyara SST MT
• Agus Sugiarto ST MM

Latar Belakang Pemasangan Rambu Lalu Lintas Lensa Cembung

Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema) melaksanakan pemasangan rambu lalu lintas lensa cembung.

Sebelum menentukan bentuk solusi, tim terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Ketua RT beserta warga setempat. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk menggali informasi mengenai kondisi lalu lintas di lingkungan permukiman. Serta lokasi yang dinilai memiliki risiko tinggi akibat terbatasnya jarak pandang.

“Masukan dari masyarakat menjadi bahan penting dalam menentukan prioritas penanganan, karena mereka merupakan pengguna jalan yang setiap hari melintasi kawasan tersebut. Pendekatan partisipatif ini juga bertujuan, agar program yang dilaksanakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.

Kolaborasi dan Koordinasi Bersama Masyarakat

Kolaborasi sejak tahap awal menjadi fondasi penting dalam keberhasilan kegiatan pengabdian. Hasil koordinasi kemudian ditindaklanjuti melalui survei lapangan. Tim mengamati kondisi geometrik jalan, arah pergerakan kendaraan, hambatan pandangan, serta karakteristik persimpangan yang berpotensi menimbulkan konflik lalu lintas.

“Dari hasil observasi tersebut, ditemukan dua titik yang memiliki tingkat keterbatasan visibilitas paling tinggi. Sehingga diprioritaskan sebagai lokasi pemasangan rambu lalu lintas lensa cembung. Penentuan lokasi dilakukan secara objektif dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan masukan dari masyarakat,” terang Ir. Wahiddin ST MT IP ASEAN Eng, anggota lainnya.

Di sisi lain, masyarakat juga ikut membantu menyiapkan area pemasangan, sehingga pekerjaan dapat berlangsung lebih efektif. Keterlibatan warga mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Setelah lokasi ditetapkan, seluruh peralatan dan material dipersiapkan sebelum proses pemasangan dimulai. Tim memastikan setiap komponen, mulai tiang penyangga, dudukan, baut pengikat, hingga lensa cembung, berada dalam kondisi baik, sehingga dapat dipasang dengan aman dan kokoh.

“Tahap persiapan ini menjadi bagian penting karena kualitas pemasangan akan memengaruhi fungsi rambu dalam jangka panjang,” ucap Wahiddin.

Proses pemasangan rambu lalu lintas lensa cembung dengan memperhatikan posisi dan sudut pandang pengguna jalan. (Humas Polinema)
Proses pemasangan rambu lalu lintas lensa cembung dengan memperhatikan posisi dan sudut pandang pengguna jalan. (Humas Polinema)

Pemasangan, Pengujian dan Edukasi kepada Masyarakat

Proses pemasangan dilakukan secara bertahap pada dua lokasi yang telah ditentukan di RT 07 RW 09 Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang, Sabtu (27/6/2026). Setelah tiang berdiri dengan baik, lensa cembung dipasang dan disesuaikan dengan arah datang kendaraan, agar menghasilkan sudut pandang yang optimal.

Tim kemudian melakukan pengujian dari berbagai arah untuk memastikan seluruh area yang sebelumnya tertutup dapat terlihat dengan jelas. Apabila masih ditemukan bagian yang belum terlihat sempurna, posisi lensa kembali disesuaikan hingga memberikan visibilitas yang maksimal.

Tahapan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemasangan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan rambu, tetapi juga oleh ketepatan posisi dan orientasinya terhadap kondisi lapangan. Dengan demikian, fungsi rambu sebagai alat bantu keselamatan dapat bekerja secara optimal.

Selain memasang rambu, tim memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya keselamatan berlalu lintas di lingkungan permukiman. Warga diajak memahami, keberadaan lensa cembung bukanlah pengganti kewaspadaan, melainkan alat bantu. Dimana fungsinya dapat meningkatkan kemampuan pengendara dalam mengantisipasi kendaraan dari arah lain.

Lebih jauh lagi, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi, diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki. Sehingga fasilitas yang telah dipasang dapat dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

“Kesadaran untuk mengurangi kecepatan saat memasuki persimpangan dan saling menghormati sesama pengguna jalan. Tetap menjadi faktor utama dalam menciptakan lalu lintas yang aman. Diskusi setelah pemasangan menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap upaya peningkatan keselamatan di lingkungan mereka,” jelas Agus Sugiarto ST MM, anggota lainnya.

Manfaat Program Pengabdian kepada Masyarakat Polinema

Program pengabdian ini memberikan manfaat yang tidak hanya bersifat fisik melalui pemasangan dua unit rambu lalu lintas lensa cembung. Tetapi juga memperkuat kepedulian masyarakat terhadap pentingnya budaya keselamatan berlalu lintas. Warga menyampaikan apresiasi atas solusi yang diberikan, karena menjawab persoalan yang selama ini mereka rasakan.

“Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko konflik kendaraan pada persimpangan dengan keterbatasan jarak pandang. Sekaligus meningkatkan rasa aman bagi seluruh pengguna jalan,” ucap Agus.

Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiatan ini menjadi wujud komitmen Polinema. Dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat menunjukkan, penyelesaian persoalan di lingkungan melalui kolaborasi yang baik dan didukung penerapan teknologi tepat guna.

“Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dikembangkan, sehingga semakin banyak lingkungan permukiman yang memiliki fasilitas keselamatan jalan memadai. Serta mampu menciptakan budaya berlalu lintas yang lebih aman, tertib dan berkelanjutan,” tandasnya. (rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *