“Permainannya secara manual karena selain informatif kita juga ingin anak-anak bisa lepas dari handphone, tapi kalau untuk akses sejarahnya lewat hp,” sambungnya.
Namun sayangnya permainan yang lahir sejak 2021, dengan keunggulan belajar sambil bermain tersebut masih dalam tahap penyempurnaan dan pengembangan sehingga belum dapat diakses oleh masyarakat.
“Ini masih prototype jadi masih dicoba dan lebih dikembangkan, aplikasinya juga belum ada di playstore. Dilihat dari desain kartunya juga pop culture jadi enggak ketinggalan jaman. Enggak cuma main kartu tapi juga kreatif dan menimbulkan rasa nasionalisme bagi anak-anak,” tutupnya. (ws6/ono)
Baca juga:
- UM Kolaborasi KKC Japan, Wujud Komitmen Hadapi Tantangan Dunia Kerja Internasional
- Bupati Malang Dorong Pengurus Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Cetak Generasi Berkarakter
- Tim Apatte62 Brawijaya Juarai Shell Eco-marathon 2026, Lolos ke Global Championship 2027
- Jembatan Gantung Termangu, Akses Cepat dan Harapan Baru untuk Warga Desa
- Es Gabus Sudrajat Terbukti Bukan Spons, DPR: Permintaan Maaf Aparat Tak Cukup








