Bangga Jadi Tuan Rumah U-20

 

PASTINYA ditunjuk oleh FIFA sebagai tuan rumah penyelenggara Piala Dunia U-20 pada tahun 2021 merupakan kebanggaan. Untuk menjadi tuan rumah piala dunia kesebelasan remaja, tak mudah sebab Indonesia harus bersaing dengan negeri yang juga gila bola dan mempunyai prestasi sepakbola di atas kita. Mereka adalah Peru, Brasil, dan trio negara Arab yang ingin bersama menggelar Piala Dunia U-20, yakni Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Penunjukan sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20, tentu FIFA melihat ada keistimewaan Indonesia sehingga mereka memilih kita dibanding dengan Brasil yang sudah berulangkali menggelar ajang perhelatan sepakbola dunia yang kastanya lebih tinggi daripada U-20.

Brasil pernah sebagai tuan rumah Piala Dunia dan kejuaraan sepakbola di benua Amerika.
Menjadi tuan rumah perhelatan olahraga dan sepakbola antarbangsa, bagi Indonesia bukan sesuatu yang baru. Indonesia sering menjadi tuan rumah ajang olahraga dunia.

Kita sudah sering menggelar SEA Games. Bahkan negeri ini pernah dua kali menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1962 dan 2018. Juga Islamic Solidarity Games.

Dalam dunia sepakbola, Indonesia meski secara bersama dengan Thailand, Malaysia, dan Vietnam telah menjadi tuan rumah Piala Asia 2007. Semua event tersebut berhasil diselenggarakan dengan sukses. Prestasi inilah yang bisa jadi membuat FIFA memilih Indonesia. Indonesia dinilai mampu menggelar event olahraga antarbangsa.

Namun dalam soal menjadi tuan rumah penyelenggaraan sepakbola jagad, Indonesia tertinggal dengan negara tetangga. Thailand pada tahun 1972 dan Singapura pada tahun 1984, telah menjadi tuan rumah Piala Asia. Sedang Malaysia pada tahun 1997 telah menjadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20.

Terlepas dari itu semua, terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 menjadikan negara ini sejajar dengan negara yang sudah pernah menyelenggarakan hal yang serupa. Lalu apakah penunjukan ini membuat kita sibuk bangun sana, bangun sini, seperti ketika kita mendadak ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games 2018 yang menggantikan Vietnam karena mengundurkan diri?

Sepertinya untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20, kita tidak sesibuk saat menggelar Asian Games. Pasalnya kita sudah memiliki banyak stadion yang memiliki standar internasional, baik dari segi jumlah penonton, bangunan, jenis rumput, dan fasilitas lainnya. Bila ada yang kurang, hal demikian bisa ditambah atau diperbaiki dalam durasi satu tahun lebih.

Kita bersyukur, selepas reformasi, penyelenggaraan tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak berpusat di Jakarta. Dalam masa awal reformasi, Jawa Timur menjadi tuan rumah kali pertama.

Selanjutnya disusul Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jawa Barat. Maraknya daerah menggelar PON menyebabkan pembangunan sarana olahraga berstandar nasional dan internasional menjadi lebih merata.

Sebagai cabang olahraga yang paling popular, biasa sepakbola mendapat perhatian yang lebih dibanding dengan cabang olahraga yang lain. Ini bisa terlihat ketika satu provinsi menjadi tuan rumah PON, mereka secara otomatis membangun ‘stadion utama’ untuk cabang sepakbola yang megah, seperti di Sidoarjo, Samarinda, Palembang, Riau, Bogor, dan Bandung. Dari sinilah ada Stadion Utama Riau, Stadion Utama Kalimantan Timur, Stadion Gelora Sriwijaya, Stadion Pakansari, Stadion BLA
Sekarang bangsa ini memiliki banyak stadion yang bisa digunakan untuk pertandingan internasional selain Stadion GBK. Stadion-stadian itu memiliki kapasitas penonton 40.000 hingga 60.000, sama dengan kapasitas stadion-stadion di Eropa. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *