Jakarta, SERU.co.id – Rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp17.602,95 per dolar AS, memicu kekhawatiran kenaikan harga barang dan tekanan daya beli masyarakat. Presiden Prabowo meminta publik tetap tenang selagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih bisa tersenyum. Namun, ekonom menilai penguatan dolar berpotensi memicu inflasi impor dalam beberapa bulan ke depan.
Di tengah pelemahan rupiah tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat tidak panik. Prabowo menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan pemerintah bekerja secara solid menjaga stabilitas nasional.
“Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, nggak usah kalian khawatir itu,” seru Prabowo, Sabtu (16/5/2026).
Menurut Prabowo, fluktuasi nilai dolar tidak berdampak langsung bagi masyarakat desa yang bertransaksi menggunakan rupiah. Ia menyebut, pihak paling merasakan tekanan kurs adalah kelompok yang sering bepergian atau berbisnis ke luar negeri.
“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar. Yang pusing yang suka ke luar negeri,” katanya.
Presiden juga menekankan, stok pangan dan energi nasional dalam kondisi aman. Meskipun banyak negara menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik. Ia meminta masyarakat tetap percaya terhadap kekuatan ekonomi Indonesia.
Meski demikian, kalangan ekonom mengingatkan, pelemahan rupiah tetap memiliki dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda menilai, tekanan terbesar akan muncul dalam bentuk imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor.
“Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan baku industri hingga barang konsumsi harian. Inflasi dari impor akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi naik dan harga barang naik,” ujar Huda, seperti dikutip dari detikfinance.
Ia memperkirakan, dampak kenaikan harga akan semakin terasa dalam dua hingga tiga bulan mendatang. Salah satu sektor yang mulai terdampak adalah industri plastik akibat mahalnya bahan baku impor dan tingginya biaya distribusi. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga berbagai produk turunan, termasuk minyak goreng.
“Dampak dari pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat. Mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha,” pungkasnya. (aan/mzm)









