Boyolali, SERU.co.id – Serangan hama tikus yang berlangsung terus-menerus selama dua musim tanam membuat sejumlah petani di Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali mengalami gagal panen. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Pertanian bersama kelompok tani menggelar kegiatan pengendalian hama secara massal yang dikenal dengan istilah gropyokan.
Kegiatan dilaksanakan di Desa Ketaon, Rabu (1/7/2026), melibatkan petani dan penyuluh pertanian setempat. Menurut Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Ketaon, Widodo, serangan tikus sudah terasa sejak satu tahun terakhir. Di desanya saja, tercatat sekitar 14 hektar lahan terkena dampak, dan dua hektar di antaranya mengalami puso atau gagal panen total.
“Kami lakukan pengendalian dengan cara fumigasi atau pengasapan menggunakan emposan berbahan belerang. Harapannya populasi tikus bisa berkurang, sehingga musim tanam berikutnya petani bisa memanen dengan hasil yang memuaskan,” seru Widodo.
Ketua Gabungan Kelompok Tani Marsudi Tani, Sumarno, menyampaikan kerugian yang diderita petani cukup besar. Modal produksi untuk satu patok lahan sekitar Rp3 juta, sedangkan dalam satu hektar terdapat empat patok atau setara modal Rp12 juta. Jika normal, hasil panen bisa mencapai Rp8 juta per patok. Namun akibat serangan tikus, petani justru merugi antara Rp4 hingga Rp5 juta per patok.
“Sudah dua kali berturut-turut gagal panen untuk padi, jagung, dan kedelai. Akhirnya banyak petani beralih menanam tembakau dan jagung sebagai solusi sementara,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pertanian Boyolali, Suyanta menjelaskan, wilayah dengan kasus serangan tikus tertinggi saat ini berada di Kecamatan Banyudono dan Sawit. Salah satu penyebabnya adalah keberadaan tanggul tanah pembangunan jalan tol yang menjadi tempat persembunyian dan sarang yang aman bagi tikus.
“Tanggul yang ditumbuhi rumput liar dan jarang terjamah aktivitas manusia membuat populasi tikus berkembang pesat. Oleh karena itu, kami menerapkan strategi pengendalian secara terpadu,” ujarnya.
Selain gropyokan, strategi yang dijalankan meliputi pelepasan burung hantu sebagai pemangsa alami, penerapan pola tanam serentak, serta rencana uji coba penanaman sereh dapur di Desa Jembungan untuk mengusir hama secara alami. Suyanta memastikan bahwa hingga saat ini kondisi masih dalam batas kendali dan terus dipantau ketat. (wnb/mzm)









