Magelang, SERU.co.id – Gairah Festival Lima Gunung terus menyala sepanjang seperempat abad. Menginjak usia ke-25 pada tahun 2026, ajang seni budaya yang digagas Komunitas Lima Gunung ini kembali digelar di lokasi perdananya, Dusun Warangan, Desa Muneng Warangan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, pada 10–12 Juli 2026. Berbeda dengan acara serupa, festival ini konsisten diselenggarakan secara mandiri dan swadaya tanpa menerima bantuan dana maupun sponsor dari pihak mana pun.
Jalan menuju lokasi yang kini sudah mulus dan beraspal rapi menjadi penyambut yang menyenangkan bagi pengunjung. Pengaspalan sepanjang sekitar dua kilometer itu dilakukan menjelang acara dan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, terpisah dari operasional penyelenggaraan festival itu sendiri.
Festival ini lahir dari gagasan budayawan Magelang, Sutanto Mendut, yang merintis Komunitas Lima Gunung pada tahun 1997. Komunitas ini menghimpun kekayaan budaya dan tradisi masyarakat yang hidup di kawasan lima gunung: Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Pementasan perdana digelar pada tahun 2002, dan sejak tahun 2010 melalui komitmen bernama “Sumpah Tanah”, penyelenggaraannya diputuskan untuk berdiri sepenuhnya di atas kekuatan warga dan gotong royong.
“Kami menyebutnya ‘tanpa berembuk duit’. Segala kebutuhan mulai dari penataan panggung, pembuatan instalasi seni, konsumsi, hingga logistik dikerjakan bersama secara sukarela. Jika ada perbedaan pandangan, itu berkaitan dengan nilai dan kesopanan, bukan soal uang,” seru Ketua Komunitas Lima Gunung, Sujono.
Sutanto Mendut menegaskan, keberlangsungan festival selama 25 tahun ini tidak lepas dari ikatan batin antaranggota yang tidak bisa diukur dengan materi. Bahkan saat pandemi COVID-19, semangat ini tetap terjaga. Tema yang diangkat tahun ini, “Makin Goblok Bareng”, mengandung makna mendalam sebagai wujud kerendahan hati dan ajakan untuk terus belajar serta memperbaiki diri.
Versi Bahasa Inggris:
Pada edisi ke-25 ini, panitia menyeleksi 85 grup kesenian dengan total 1.274 orang penampil yang berasal dari berbagai daerah. Ragam pertunjukan yang ditampilkan meliputi seni tradisional, modern, kolaborasi, tari, musik, teater, instalasi seni, hingga kirab budaya. Sebagai bentuk penghargaan, Lima Gunung Award diberikan kepada Mbah Sukitri (81 tahun), seorang seniman yang telah lama berkiprah di bidang seni suara, tari, dan gamelan.
Meskipun telah berjalan selama 25 tahun tanpa jeda, komunitas tidak menganggap festival ini sebagai tradisi yang kaku. Bagi mereka, Festival Lima Gunung adalah ruang ekspresi yang hidup, digerakkan oleh gairah dan keikhlasan, serta menjadi bukti bahwa kekuatan budaya bisa tumbuh dan lestari tanpa bergantung pada suntikan dana besar.
Pemerintah Kabupaten Magelang menyambut baik semangat tersebut. Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menegaskan peran pemerintah hanya sebagai fasilitator, menjamin ruang bagi kreativitas warga agar nilai-nilai budaya tetap terjaga dan relevan seiring perkembangan zaman. (gts/mzm)









