Protes Harga Anjlok, Peternak Ayam ‘Mandi Telur’ dan Bagi Hasil Ternak

Protes Harga Anjlok, Peternak Ayam 'Mandi Telur' dan Bagi Hasil Ternak
Puluhan peternak ayam petelur dan pedaging dari Solo serta wilayah sekitarnya menggelar aksi protes di kawasan Bundaran Gladak, Selasa (7/7/2026). (Seru.co.id/wbn)

Solo, SERU.co.id – Puluhan peternak ayam petelur dan pedaging dari Solo serta wilayah sekitarnya menggelar aksi protes di kawasan Bundaran Gladak, Selasa (7/7/2026). Dengan cara yang unik, mereka membagikan ayam hidup, telur, dan jagung kepada warga serta pengendara, bahkan ada yang memecahkan telur ke tubuhnya sendiri sebagai bentuk kekecewaan akibat anjloknya harga jual hasil ternak.

Koordinator aksi, Chris Handrika Imannuel Raharjo menjelaskan, saat ini harga jual ayam broiler di tingkat kandang hanya mencapai Rp12.500 per kilogram, jauh di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang ditetapkan sebesar Rp19.500. Kondisi serupa juga dialami untuk komoditas telur.

Bacaan Lainnya

“Harga telur hari ini hanya sekitar Rp16.500 per kilogram, padahal harga acuannya Rp19.500. Bahkan baru saja diturunkan lagi menjadi Rp24.000 dari sebelumnya Rp26.500. Ini tidak masuk akal: harga bahan baku naik, tapi harga jual malah diturunkan,” seru Chris Handrika Imannuel Raharjo.

Keluhan utama lainnya adalah melonjaknya biaya produksi. Harga jagung kini mencapai Rp6.800–Rp7.000 per kilogram, melampaui acuan pemerintah sebesar Rp5.500. Sementara itu, harga bungkil kedelai juga naik hingga Rp2.000 per kilogram dalam kurun waktu setengah tahun terakhir, meski pemerintah sudah menerapkan sistem impor satu pintu.

Dihitung dari sisi biaya, Harga Pokok Produksi (HPP) telur mencapai Rp26.000 per kilogram. Artinya, peternak merugi sekitar Rp9.000–Rp10.000 untuk setiap kilogram telur yang dijual. Bagi peternak dengan 1.000 ekor ayam, kerugiannya bisa mencapai Rp500 ribu per hari, belum termasuk kenaikan biaya listrik, vaksin, dan tenaga kerja.

“Kalau harga telur sedang tinggi, pemerintah segera turun tangan dengan operasi pasar. Tapi saat harga jatuh dan kami merugi terus, kebijakan seolah tidak ada. Kami butuh keadilan dan regulasi yang melindungi peternak,” ujar Chris.

Para peternak berharap pemerintah segera mengevaluasi kebijakan harga, menstabilkan pasokan dan harga pakan, serta memberikan perlindungan agar usaha peternakan rakyat tidak terancam gulung tikar. (wnb/mzm)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *