Pentingnya Pengetahuan K3 dan Pertolongan Pertama bagi Pemandu Wisata

Pentingnya Pengetahuan K3 dan Pertolongan Pertama bagi Pemandu Wisata
Muhammad Ansori saat memberikan pelatihan di kegiatan Tour Guide Development Program II DPC HPI Malang dan Disparbud Kabupaten Malang. (dik)

​Malang, SERU.co.id – Keselamatan dalam dunia pemanduan wisata kini menjadi sorotan utama, terutama dengan meningkatnya angka kecelakaan di destinasi wisata alam. Muhammad Ansori, seorang pemandu wisata gunung dan trainer kompetensi, membagikan pandangannya mengenai pentingnya pemahaman Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) serta First Aid (Pertolongan Pertama) bagi para pemandu.

​Menurut Ansori, materi K3 dan First Aid memiliki korelasi yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. K3 berfungsi sebagai langkah preventif, mitigasi, dan pencegahan, baik untuk destinasi wisata maupun bagi pemandunya sendiri. Namun, ketika kecelakaan tetap terjadi di lapangan, di situlah peran First Aid atau pertolongan pertama baru diterapkan.

Bacaan Lainnya

​”Pencegahannya di K3, mitigasinya di sana. Tapi kemudian ketika itu terjadi, nah barulah kemudian kita harus melakukan pertolongan,” seru Ansori yang merupakan anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI).

Pentingnya Pengetahuan K3 dan Pertolongan Pertama bagi Pemandu Wisata
Peserta pelatihan Tour Guide Development DPC HPI Malang serius menyimak pemaparan dari pemateri K3 and First Aid. (Dik)

Anshori mengungkapkan urgensi pemahaman ini semakin meningkat mengingat banyaknya kecelakaan yang terjadi dalam aktivitas wisata. Tidak hanya ramai diberitakan di area pegunungan, kecelakaan juga kerap terjadi di destinasi wisata alam lain seperti curug atau air terjun, salah satu contohnya adalah kejadian yang belum lama ini terjadi di Bogor.

“Materi pelatihan yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi riil rata-rata destinasi wisata alam tempat para pemandu bertugas,” ungkap Bang Ori, sapaannya.

​Dalam kenyataan, lanjut Bang Ori, kecelakaan yang paling sering terjadi di wisata alam tergolong sederhana, seperti wisatawan yang terjatuh. Kendati terdengar sepele, proses jatuh tersebut dapat mengakibatkan dampak cedera yang bervariasi seperti terkilir dan Patah Tulang serta cedera kepala. ​Ansori menekankan bahwa First Aid dalam dunia pariwisata memiliki pendekatan simulasi yang sedikit berbeda dari penanganan medis biasa.

“​Sebagai bagian dari prosedur K3, seorang pemandu wisata wajib menyediakan peralatan First Aid di dalam ransel mereka. Satu aturan tegas yang harus dipatuhi adalah pemandu tidak diperbolehkan memberikan obat-obatan kepada wisatawan,” tuturnya.

Lebih detail disebutkan,​ beberapa perlengkapan standar yang sebaiknya disiapkan di dalam ransel pemandu untuk penanganan awal. Seperti minyak angin, hand warmer, atau foot warmer serta Obat merah, perban, dan tensoplast untuk penanganan luka ringan. Selain kesiapan logistik, Ansori menekankan hal penting yang sering kali terlupakan oleh para pemandu saat ini, yaitu memeriksa riwayat kesehatan wisatawan sebelum keberangkatan.

“Seringkali pemandu baru bertanya tentang kondisi kesehatan ketika sudah berada di lapangan. Padahal, data kesehatan ini sangat penting agar pemandu dapat mengantisipasi risiko serta mempersiapkan peralatan First Aid yang sesuai sejak awal,” imbuhnya.
​
​Menutup wawancara, Ansori menyayangkan terbatasnya durasi pelatihan terkait K3 dan First Aid yang sering diselenggarakan. Sehingga apa yang dipaparkan dan dipraktikkan baru menyentuh bagian permukaannya saja. Ia berharap ke depannya ada ruang dan waktu yang lebih luas untuk mengadakan pelatihan lanjutan yang lebih spesifik dan mendalam.

“(Pelatihan) ini dinilai sangat penting karena kedua kompetensi tersebut melekat erat dan menjadi tanggung jawab profesi seorang pemandu wisata,” pungkasnya. (dik/ono)

 

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id