Islamabad, SERU.co.id – Perundingan damai Iran dan Amerika Serikat berakhir buntu meskipun sudah berlangsung selama 21 jam di Pakistan. Kedua pihak belum menemukan titik temu, terutama soal isu sensitif seperti program nuklir dan syarat penghentian konflik. Kondisi ini pun memunculkan kekhawatiran konflik berpotensi kembali memanas.
Wakil Presiden AS, JD Vance mengungkapkan, negosiasi gagal karena Iran menolak sejumlah persyaratan utama yang diajukan Washington. Ia menegaskan, tidak ada titik temu yang berhasil dicapai.
“Kami telah melakukan diskusi intensif selama 21 jam. Itu kabar baiknya. Namun, kami belum mencapai kesepakatan dan ini merupakan kabar buruk,” seru Vance, dikutip dari BBC Indonesia,.
Ia juga menyatakan, proposal yang diajukan AS merupakan penawaran terakhir dan terbaik. Terutama terkait tuntutan agar Iran berkomitmen menghentikan pengembangan senjata nuklir. Begitu juga tidak mengakses teknologi yang memungkinkan percepatan produksi senjata tersebut.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei menggambarkan, perundingan sebagai proses intens. Ia menekankan, keberhasilan dialog sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat. Ia meminta Washington tidak mengajukan tuntutan berlebihan, serta menghormati hak dan kepentingan sah Iran.
“Pembahasan mencakup isu-isu strategis. Seperti keamanan Selat Hormuz, program nuklir Iran dan pencabutan sanksi. Kemudian upaya mengakhiri konflik secara menyeluruh di kawasan,” ujarnya.
Sebagai informasi, delegasi Iran dalam perundingan ini dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Sementara itu, delegasi AS dipimpin Vance dan utusan khusus Presiden Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Iran diketahui mengajukan sejumlah tuntutan penting. Termasuk pencairan aset miliaran dolar yang dibekukan di bank asing, kendali atas Selat Hormuz, ganti rugi perang dan gencatan senjata di seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon. Iran juga menginginkan hak mengenakan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.
Wakil Perdana Menteri Pakistan, Ishaq Dar, mendesak kedua pihak tetap menjaga komitmen terhadap gencatan senjata. Ia menekankan, pentingnya melanjutkan dialog demi stabilitas kawasan meski negosiasi menemui jalan buntu.
“Penting terus menjunjung komitmen gencatan senjata dan menjaga semangat positif menuju perdamaian. Pakistan akan terus berperan sebagai fasilitator dialog antara kedua negara,” pungkasnya, dilansir dari CNN Indonesia. (aan/rhd)









