Memoar Perdana Aurelie Moeremans Angkat Luka Masa Remaja dan Bahaya Child Grooming

Memoar Perdana Aurelie Moeremans Angkat Luka Masa Remaja dan Bahaya Child Grooming
Buku memoar kisah pribadi Aurelie Moeremans. (Tangkapan Layar Cover Buku)

Jakarta, SERU.co.id – Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans membagikan kisah paling personal dalam hidupnya melalui buku memoar nonfiksi berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Dirilis mandiri dan dibagikan gratis, buku ini menyoroti relasi tidak sehat dan kekerasan psikologis yang kerap tak disadari korban. Kisah ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan anak dari praktik child grooming.

Hingga awal 2026, Broken Strings ramai diakses pembaca karena mengangkat isu sensitif yang dekat dengan realitas banyak remaja. Yakni praktik grooming, relasi tidak sehat dan kekerasan psikologis yang kerap luput disadari korban.

Buku ini menjadi karya perdana Aurelie Moeremans, aktris, model dan penyanyi keturunan Belgia–Indonesia yang lahir di Brussels pada 8 Agustus 1993. Versi bahasa Indonesia buku ini hadir dengan judul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah. Dalam buku tersebut, Aurelie menuturkan pengalaman nyata yang dialaminya sejak usia sekitar 15 tahun.

Ia mengisahkan, bagaimana dirinya terjerat hubungan dengan seorang pria yang usianya hampir dua kali lipat darinya. Dalam buku disebut dengan nama samaran “Bobby”, yang perlahan memanipulasi, mengontrol dan melakukan kekerasan psikologis dan seksual.

Narasi disusun secara kronologis, mulai dari pertemuan awal, dinamika relasi yang kian berubah, hingga proses panjang untuk menyadari, melepaskan diri, dan memulihkan trauma. Judul Broken Strings menjadi metafora atas masa muda yang tercerabut akibat relasi tersebut.

Aurelie tumbuh di Belgia sebagai remaja pemalu yang kerap menghadapi perundungan dan lingkungan keras. Kesempatan masuk ke dunia hiburan Indonesia melalui lomba bakat menjadi titik balik hidupnya. Namun, di tengah kehidupan barunya itu, ia justru terjebak dalam hubungan berbahaya.

Hubungan awalnya tampak serius, perlahan menunjukkan tanda-tanda bahaya. Mulai dari tuntutan perhatian berlebihan, manipulasi emosional, hingga upaya menjauhkan Aurelie dari lingkungan pertemanan. Ia bahkan dipaksa melakukan hubungan seksual melalui bujuk rayu dan janji pernikahan, hingga tak menyadari dirinya sedang mengalami kekerasan seksual.

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri. Ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban,” seru Aurelie, dikutip dari Instagram pribadinya @aurelie, Senin (12/1/2026).

Lewat Broken Strings, Aurelie secara sadar menolak menghaluskan cerita. Ia memilih bahasa lugas dan deskriptif. Ia ingin membuka mata pembaca akan risiko grooming dan pentingnya perlindungan bagi anak dan remaja.

Apa Itu Child Grooming?

Dikutip dari National Office for Child Safety, Child grooming adalah perilaku yang disengaja untuk memanipulasi dan mengendalikan anak. Tujuannya melakukan pelecehan atau kekerasan seksual.

Pelaku grooming biasanya bersikap lembut, penuh perhatian dan tampak tulus, sehingga sulit dikenali. Menurut Bravehearts, pelaku kerap dipandang sebagai sosok menyenangkan, dipercaya dan mudah diterima lingkungan. Proses grooming dapat berlangsung lama, mulai dari berminggu-minggu hingga bertahun-tahun, dengan tujuan akhir mendapatkan akses tanpa pengawasan kepada anak dan membungkam korban agar tidak berani bercerita.

Pelaku sering membangun kepercayaan dengan hadiah, perhatian khusus dan memperlakukan anak seolah sudah dewasa. Perlahan, korban diisolasi dari keluarga dan teman, hingga pelaku menjadi satu-satunya tempat bergantung.

Tanda-Tanda Grooming yang Perlu Diwaspadai

Orang tua, guru, dan orang dewasa lain perlu waspada jika anak menunjukkan perubahan perilaku secara tiba-tiba, seperti:

  1. Menghabiskan lebih banyak waktu di dunia maya atau di luar rumah
  2. Menjadi tertutup soal aktivitas dan pergaulan
  3. Menerima hadiah tanpa penjelasan jelas
  4. Berteman dengan orang yang jauh lebih tua
  5. Sering berbohong tentang kegiatannya
  6. Mengetahui istilah seksual yang tidak sesuai usia
  7. Mulai mengonsumsi hal yang belum semestinya

Upaya Pencegahan

Untuk mencegah child grooming, beberapa langkah penting dapat dilakukan, antara lain:

  1. Memberikan edukasi seksual dini sesuai usia
  2. Membangun komunikasi terbuka dengan anak
  3. Mengawasi aktivitas offline dan online anak
  4. Mengajarkan batasan tubuh dan hak berkata “tidak”
  5. Mengenalkan tanda bahaya perilaku mencurigakan
  6. Segera melaporkan dugaan kasus kepada pihak berwenang

Melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans tak sekadar membuka luka lama. Namun juga menghadirkan suara korban yang selama ini kerap terbungkam. Bukunya menjadi pengingat bahwa grooming bisa terjadi pada siapa saja dan pencegahan harus dimulai sedini mungkin. (aan/mzm)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan KKB Bank jatim