Kasus DBD Tembus 549 Kasus, Dinkes Kota Malang Tegaskan Fogging Tidak Efektif

Kasus DBD Tembus 549 Kasus, Dinkes Kota Malang Tegaskan Fogging Tidak Efektif
Ilustrasi fogging, Dinkes Kota Malang menyatakan upaya tersebut tidak efektif mencegah DBD. (ist)

Malang, SERU.co.id – Kasus demam berdarah atau DBD di Kota Malang tercatat mengalami lonjakan, tercatat ada 549 kasus hingga akhir Agustus 2025. Di tengah lonjakan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menegaskan, fogging bukan langkah pencegahan yang efektif.

Kepala Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif menjelaskan, DBD disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang dapat membawa virus dengue. Ia mengingatkan, nyamuk tersebut bisa berkembang biak di genangan air bersih, baik yang terlihat maupun tersembunyi. Misalnya, di vas bunga, dispenser, hingga dedaunan yang menyimpan air.

Bacaan Lainnya
Kepala Dinkes Kota Malang menjelaskan, target angka bebas jentik mencapai 95 persen. (Seru.co.id/bas)
Kepala Dinkes Kota Malang menjelaskan, target angka bebas jentik mencapai 95 persen. (Seru.co.id/bas)

“Perindukan nyamuk tidak bisa ditentukan secara kasat mata. Hanya melalui survei jentik nyamuk, kita bisa memastikan keberadaannya,” seru Husnul, Minggu (31/8/2025).

Dinkes Kota Malang secara rutin melakukan edukasi melalui Posyandu dan Puskesmas untuk mengenalkan gejala DBD dan pentingnya deteksi dini. Selain itu, dilakukan survei jentik nyamuk secara berkala di sekitar rumah warga yang terjangkit DBD.

“Target kami angka bebas jentik mencapai 95 persen. Kalau masih di bawah itu, potensi penyebaran tetap ada,” ungkapnya.

Husnul menjelaskan, Dinkes Kota Malang selalu memantau perkembangan kasus DBD. Apabila ada laporan masuk, pihaknya segera melakukan survey di sekitar rumah warga terjangkit.

“Laporan ini biasanya berkelanjutan dan akumulatif setiap akhir bulan. Nanti kami lihat dulu. Dari survey jentik akan terlihat berapa angka bebas jentiknya,” jelasnya.

Petugas Ahli Pertama Bidang P2P Dinkes Kota Malang, Nandika Candra Ermytasari memaparkan, hingga Agustus 2025 terdapat 549 kasus DBD dengan 4 kematian. Peningkatan kasus turut dipengaruhi faktor cuaca tidak menentu akibat fenomena El Nino yang memperpanjang usia nyamuk dan memperluas jangkauan terbangnya.

“Wilayah paling terdampak tahun ini adalah Kecamatan Sukun, disusul Kedungkandang. Sedikit berbeda dari tahun lalu, wilayah paling terdampak ada di Sukun dan Blimbing,” kata Dika, sapaannya.

Ia juga menerangkan, kelompok usia 15–44 tahun menjadi kelompok paling terdampak, disusul usia anak 5–14 tahun. Hal ini berkaitan dengan mobilitas tinggi kelompok usia produktif, sehingga lebih rentan terpapar nyamuk pembawa virus dengue.

Fogging Bukan Langkah Pencegahan Efektif

Dika menegaskan, Dinkes Kota Malang menerima banyak pengajuan fogging dari masyarakat, namun tidak semua dikabulkan. Ia menegaskan, fogging bukan solusi utama dalam pemberantasan DBD.

“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik tetap berkembang jika tidak diberantas dari sumbernya. Fogging itu langkah terakhir, bukan utama. Selain membuat nyamuk kebal, juga berisiko bagi lingkungan,” bebernya.

Langkah pencegahan paling efektif adalah PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) melalui gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup dan Mendaur ulang, serta memelihara ikan pemakan jentik). Dinkes Kota Malang juga menggalakkan gerakan Malang Resik untuk mencapai target angka bebas jentik 95 persen.

“Namun hasil evaluasi terbaru menunjukkan angka bebas jentik di Kota Malang masih baru 91 persen. Maka dari itu kami mengajak masyarakat untuk aktif menjadi juru pemantau jentik (Jumantik) di rumah masing-masing. Pemeriksaan rutin di kamar mandi, vas bunga, selokan dan tempat-tempat penampungan air menjadi kunci utama pencegahan,” tuturnya.

Deteksi Dini Sangat Penting

Dika menyoroti, gejala DBD sering disalahartikan sebagai demam biasa atau tifus. Oleh karena itu, Dinkes Kota Malang mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap gejala awal seperti demam tinggi, nyeri otot, hingga badan lemas.

“Jangan menunggu demam turun. Hari ketiga atau keempat justru jadi titik kritis. Jika demam tidak kunjung reda di hari kedua, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat,” tegasnya.

Sebagai langkah preventif tambahan, masyarakat juga dianjurkan untuk menghindari kebiasaan menggantung baju di tempat lembab. Dinkes Kota Malang berharap dengan peran aktif masyarakat, lonjakan kasus DBD di sisa tahun 2025 bisa ditekan.

“Semua bisa jadi Jumantik di rumah sendiri. Pencegahan paling efektif itu dimulai dari lingkungan terkecil,” pungkasnya. (bas/mzm)

disclaimer

Pos terkait