Malang, SERU.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong hilirisasi riset nasional, agar berdampak langsung pada sektor industri. Langkah strategis ini diambil lantaran posisi Indonesia masih tertahan di peringkat ke-55 dunia dalam Global Innovation Index (GII).
Kepala BRIN, Prof Dr Arif Satria SP MSi mengatakan, kunci utama mengejar ketertinggalan dengan mempercepat keterkaitan (link and match) antara hasil riset akademis dan kebutuhan riil dunia usaha.
“Fokus utama kita adalah meningkatkan skor GII sebagai tolok ukur kemajuan bangsa. Riset tidak boleh hanya berhenti di laci perpustakaan, melainkan harus berdampak langsung pada hilirisasi dan industrialisasi,” seru Prof. Arif, dalam Kuliah Umum Riset Nasional di Aula Graha Rektorat lantai 9 Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (3/7/2026) sore.
Daftar Isi
Perkuat Sejumlah Fondasi Agar Riset Inovasi Kompetitif
Menurut Prof. Arif, terdapat sejumlah fondasi utama yang harus diperkuat, agar riset nasional semakin kompetitif, yakni:
• pendanaan riset,
• kualitas sumber daya peneliti (talenta),
• peta jalan riset (roadmap), serta
• ekosistem riset yang mampu menghubungkan seluruh elemen inovasi.
“Kita harus tetap optimistis di tengah berbagai keterbatasan. Dan terpenting, memiliki mimpi besar dan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada, agar cita-cita tersebut dapat terwujud,” terangnya.
Di sisi lain, salah satu tantangan terbesar adalah memperkuat keterkaitan antara hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Agar mampu mendorong industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi.
“BRIN mendorong setiap perguruan tinggi membangun science technopark sebagai jembatan kolaborasi antara kampus dan dunia usaha,” pintanya.
BRIN Siapkan Rumah Inovasi Daerah Setiap Provinsi
Saat ini, BRIN tengah menyiapkan program Rumah Inovasi Daerah di berbagai provinsi. Program tersebut akan menjadi wadah kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi dan pelaku industri, dalam mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal.
“Rumah Inovasi Indonesia akan diluncurkan pada September. Setelah itu, kami akan membangun Rumah Inovasi Daerah di sejumlah provinsi, termasuk Jawa Timur,” katanya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak memiliki peneliti maupun laboratorium yang memadai, sehingga kekuatan riset harus berasal dari perguruan tinggi. Karena itu, kampus-kampus seperti Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan perguruan tinggi lainnya. Diharapkan menjadi mitra strategis dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan daerah.
“BRIN berkolaborasi dengan perguruan tinggi melalui pembentukan pusat-pusat kolaborasi riset akan berinovasi sesuai road map program nasional. Artinya, inovasi tersebut untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan permasalahan-permasalahan di daerah, jadi tidak sembarangan. Sehingga hasil riset dapat memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” tandasnya.
Maksimalkan Kerja Sama UM Bersama BRIN
Sementara itu, Rektor UM, Prof Dr Hariyono MPd berkomitmen, memperluas dan memaksimalkan potensi kerja sama strategis bersama BRIN. Langkah ini diambil guna mendorong hilirisasi riset yang berdampak langsung pada masyarakat, serta melibatkan berbagai perguruan tinggi lainnya.
“Kolaborasi antara akademisi UM dan peneliti BRIN sebenarnya telah berjalan dengan baik. Hingga saat ini, banyak dosen UM yang telah terlibat aktif dalam riset bersama, publikasi ilmiah, hingga menghasilkan berbagai inovasi. Demikian pula publikasi sampai inovasi itu sudah ada, sekarang kita ingin bagaimana memaksimalkannya,” ungkap Prof Hariyono.
Sebagai kampus yang memiliki keunggulan kompetitif di bidang kependidikan (subject matter), UM membidik pengembangan teknologi pembelajaran masa depan. Salah satu gagasan besarnya, sistem pembelajaran berbasis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang adaptif terhadap kondisi geografis Indonesia.
Prof. Hariyono menekankan, pentingnya pemerataan akses digital. Sehingga ketimpangan kualitas pendidikan antara kota besar dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) dapat dipangkas.
“Sangat mungkin kita mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi daerah berbasis AI? Sehingga saudara-saudara kita, anak-anak kita, guru-gurunya di daerah terpencil bisa mengakses ke sini. Ini kan juga perlu kerja sama,” tegasnya.
Selain sektor pendidikan, fokus kolaborasi UM dan BRIN mengarah pada pemanfaatan teknologi tepat guna. Meski sederhana namun berdampak masif. Salah satunya, riset pengelolaan air hujan secara proporsional dan profesional yang dapat digunakan sebagai air minum, kebutuhan sanitasi dan lainnya. (rhd)









