Probolinggo, SERU.co.id – Sektor pariwisata di kawasan Gunung Bromo terus berbenah, tidak hanya dari segi infrastruktur tetapi juga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini dibuktikan dengan digelarnya kegiatan Uji Kompetensi dan Sertifikasi dengan Skema Pemandu Ekowisata Muda yang berlangsung di Wisma Utjik Bromo, Kabupaten Probolinggo, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI), Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo. Serta Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata Semesta Nusantara (PARESTA). Sebanyak 50 peserta atau asesi yang didominasi oleh pegiat wisata dari Probolinggo dan sekitarnya mengikuti proses sertifikasi ini dengan antusias.
Perwakilan dari Kementerian Pariwisata, Frianty Kartika Widhi dalam sambutannya menekankan bahwa di era persaingan global, pengakuan atas keahlian adalah hal yang mutlak.
”Kita harus menunjukkan keahlian yang kita miliki secara formal. Melalui program Kolaborasi Sertifikasi Kompetensi kerja bidang kepariwisataan tahun 2026, kami berharap para asesi dapat direkomendasikan kompeten. Sertifikat Garuda Emas ini nantinya berlaku selama tiga tahun sebagai bukti legalitas keahlian mereka,” seru Fifi sapaannya.
Senada, Kabid Destinasi dan Industri Pariwisata Disporapar Kabupaten Probolinggo, Umi Subiyantiningsih, menyatakan bahwa. Keberadaan pemandu wisata yang tersertifikasi akan meningkatkan nilai jual destinasi wisata, khususnya di sekitar Gunung
Bromo.
”Banyak destinasi wisata di sekitar Bromo yang memerlukan pendampingan profesional. Pemandu wisatanya harus punya sertifikat kompetensi. Kegiatan hari ini adalah wujud nyata kerja sama kita dengan LSP PARESTA dan Kemenpar untuk memastikan standar tersebut terpenuhi,”cetus Umi.
Sementara itu, Direktur LSP PARESTA, Eko Mujiono, SE, MM, memberikan catatan penting bagi para pemandu sebelum terjun ke lapangan. Menurutnya, aspek fisik dan sikap (attitude) adalah modal utama dalam industri jasa.
”Seorang pemandu sebelum melaksanakan tugas minimal harus bisa melihat diri sendiri dulu. Apakah sudah rapi, bersih, dan good looking? Kemudian, hal yang paling utama adalah memelihara Hospitality atau keramah-tamahan,” tutur Eko.
Eko juga menjelaskan bahwa metode asesmen kali ini dilakukan secara komprehensif.
“Peserta kita minta menunjukkan bukti keahlian mereka kepada asesor melalui metode tes tulis, wawancara, observasi, hingga demonstrasi atau praktik langsung di lapangan,” tambahnya.
Dalam kegiatan ini, Eko Mujiono didampingi oleh jajaran manajemen LSP PARESTA, di antaranya Ririen Soewondo (Manajer Administrasi & Umum). Tri Sulihanto/Aan (Manajer Sertifikasi), dan Samsul Muaruf (Manajer Mutu). Tak berhenti di Probolinggo, Eko Mujiono yang juga menjabat sebagai Ketua DPD ASPPI Jawa Timur menginformasikan bahwa rangkaian program kolaborasi dengan Kemenpar ini akan berlanjut ke wilayah ujung timur Pulau Jawa.
”Kolaborasi ini masih berlanjut. Rencananya pada 20 Mei 2026 mendatang, kami akan menggelar sertifikasi serupa di Kabupaten Banyuwangi dengan Skema Pemandu Gunung untuk 50 orang peserta,” pungkasnya.
Dengan adanya sertifikasi massal ini, diharapkan ekosistem pariwisata di Jawa Timur semakin profesional. Mampu memberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. (dik/ono)









