Perjalanan Spiritual CJH Tertua Kota Malang, Poniti Urung Beli Tanah Pilih Investasi Akhirat

Perjalanan Spiritual CJH Tertua Kota Malang, Poniti Urung Beli Tanah Pilih Investasi Akhirat
Poniti, CJH tertua Kota Malang mengisahkan kerja kerasnya untuk berangkat haji. (bas)

Malang, SERU.co.id – Kisah haru perjalanan spiritual calon jemaah haji (CJH) tertua Kota Malang. Perempuan bernama Poniti (96) itu membagikan perjalanan spiritual memantapkan diri dan hati memilih menunaikan ibadah haji. Poniti memilih urung beli tanah, namun lebih memilih investasi akhirat di usia senja.

Poniti mengisahkan, sudah sejak lama dirinya menginginkan ibadah haji setiap kali melihat tetangganya pergi ke Tanah Suci. Namun, pekerjaan dan pendapatan yang pas-pasan ditambah usia yang tak lagi muda membuatnya sempat ragu.

Bacaan Lainnya

“Dulu rutin menambung awalnya Rp10.000 setiap hari, lama-lama bertambah jadi Rp30.000 per hari. Uang itu lama-lama terkumpul dan pingin dibelikan sapi buat ternaknya bapak (suaminya, red),” seru Poniti, saat ditemui di kediamannya di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Senin (20/4/2026).

Setelah itu, ia dan sang suami pun ingin membeli sebidang tanah. Poniti yang setiap hari berjualan sayur di Pasar Kebalen mulai menabung Rp50.000 per hari.

Poniti, CJH tertua Kota Malang mengisahkan kerja kerasnya untuk berangkat haji. (bas)
Poniti, CJH tertua Kota Malang mengisahkan kerja kerasnya untuk berangkat haji. (bas)

“Waktu tabungan sudah sekitar Rp90 juta, rencananya mau beli sapi dan tanah. Tapi saya berpikir, kami ini sudah tua dan sama keluarga disarankan lebih baik dipakai daftar haji saja,” ungkapnya.

Kini, menjelang keberangkatan, Poniti dan sang suami tak menyia-nyiakan waktu untuk mempersiapkan diri. Setiap pagi hari, mereka berlatih berjalan kaki mengitari perkampungan untuk melatih kekuatan fisik saat berada di Tanah Suci.

“Saya rutin jalan-jalan pagi sama suami. Sudah terbiasa jalan kaki, karena dulu waktu muda juga sering jalan kaki ke Kebalen setiap mau jualan,” kenang wanita yang sudah 45 tahun lebih berjualan di Pasar Kebalen itu.

Anak kedua Poniti, Muhammad Zuhdi menuturkan, ia telah mendaftarkan haji kedua orang tuanya sejak tahun 2020. Setelah lima tahun menunggu, akhirnya orang tuanya mendapatkan jatah keberangkatan haji dari Kota Malang usai mutasi data dan mengikuti KBIHU di Kota Malang.

“Sebenarnya orang tua saya sudah lama sekali ingin berangkat haji. Tapi dulu keluarga kami untuk makan saja susah dan harus bekerja keras, sampai akhirnya bisa menabung dan kami yakinkan mendaftar haji,” ujarnya.

Zuhdi membenarkan, orang tuanya rutin berjalan kaki untuk melatih kekuatan fisik di tanah suci. Sejak dua minggu terakhir, sang ibu juga sudah libur berjualan untuk fokus menyiapkan keberangkatan haji.

“Makan pun harus dijaga, tensi darah rutin dilakukan. Mudah-mudahan di sana sehat selalu sampai kembali ke rumah,” pungkasnya. (bas/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id