Calon Jemaah Haji Lansia Kota Malang Dapat Pendampingan Khusus, Poniti CJH Tertua 96 Tahun

Calon Jemaah Haji Lansia Kota Malang Dapat Pendampingan Khusus, Poniti CJH Tertua 96 Tahun
Kepala Kantor (Kemenhaj) Kota Malang, Subhan, saat memimpin manasik haji 2026. (rhd)

Malang, SERU.co.id – Calon jemaah haji (CJH) lansia Kota Malang dipastikan mendapatkan pendampingan khusus. Salah satunya, Poniti (96), warga Dusun Kidal RT 54 RW 04 Kidal Tumpang, Kabupaten Malang, yang mutasi berangkat dari Kota Malang.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Malang, Subhan mengungkapkan, pemeriksaan istitoah mempertimbangkan banyak aspek. Diantaranya, kondisi kesehatan, usia dan kemampuan fisik.

Bacaan Lainnya

“Pendampingan khusus diberikan bagi calon jemaah haji dengan kondisi tertentu. Apabila ada yang memiliki penyakit bawaan, seperti hipertensi, diabetes dan kolestrol akan mendapatkan pendampingan obat,” seru Subhan, Senin (20/4/2026).

Bentuk Pendampingan yang Diperbolehkan

Terkait usia, pendampingan diberikan bagi lansia yang membutuhkan pendampingan khusus. Dalam hal ini, pendamping harus berasal dari keluarga, seperti anak kandung atau menantu yang dibuktikan oleh dokumen resmi kependudukan.

Poniti, calon jemaah haji lansia tertua Kota Malang bersiap sebelum keberangkatan haji 2026. (bas)
Poniti, calon jemaah haji lansia tertua Kota Malang bersiap sebelum keberangkatan haji 2026. (bas)

“Mereka juga harus memenuhi syarat istitoah kesehatan dan sudah terdaftar sebagai peserta aktif JKN. Pendamping khusus diperbolehkan bagi yang belum menunaikan haji atau sudah pernah menunaikan haji,” ungkapnya.

Selain pendamping lansia, terdapat petugas haji yang terdiri dari unsur Kemenhaj, tenaga kesehatan dan Petugas Haji Daerah (PHD). Subhan menyebut, dari tiga kloter besar (11, 12 dan 13) yang diberangkatkan, masing-masing kloter didampingi dua nakes, yakni satu dokter dan satu perawat.

“Karena ada tiga kloter, maka total tenaga kesehatan ada enam orang, terdiri dari tiga dokter dan tiga perawat. Mereka berasal dari puskesmas dan RSSA,” terangnya.

Selain tenaga kesehatan, setiap kloter juga dilengkapi petugas dari Kemenhaj, yakni satu ketua kloter dan satu pembimbing ibadah. Dengan demikian, total petugas dari unsur Kemenhaj dan kesehatan mencapai 12 orang.

Jumlah tersebut kemudian ditambah tiga PHD yang direkomendasikan oleh Pemkot Malang, sehingga keseluruhan petugas menjadi 15 orang. Subhan mengatakan, seleksi PHD tetap dilakukan oleh Kemenhaj, namun untuk administrasi awal direkomendasikan oleh Pemkot Malang.

“Seluruh petugas sudah melalui serangkaian pelatihan, baik dari Kemenhaj maupun Dinas Kesehatan. Selain itu, seleksi kesehatan petugas juga dilakukan lebih ketat dibandingkan jemaah haji pada umumnya,” imbuhnya.

Petugas harus melalui pemeriksaan kesehatan yang lebih lengkap, termasuk tes narkoba dan kesehatan mental. Semua indikator seperti tekanan darah, gula darah dan kolesterol harus dalam kondisi normal.

Terpisah, calon jemaah haji tertua asal Kota Malang, Poniti (96) menuturkan, dirinya sudah siap menjalankan ibadah haji. Ia telah dinyatakan istito’ah usai menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan.

“Alhamdulillah, kondisi saya sehat dan sudah divaksin. Sebelum berangkat, saya juga rutin berolahraga setiap pagi hari,” ucapnya, saat ditemui SERU.co.id di rumahnya.

Poniti yang tak lagi berusia muda, tetap semangat berolahraga ringan dengan berjalan kaki di sekitar rumah. Hal itu dilakukan bersama sang suami yang juga ikut menunaikan ibadah haji tahun ini.

“Saya jalan-jalan pagi sama suami. Sudah terbiasa jalan, karena dulu waktu muda juga sering jalan kaki setiap berjualan,” tandasnya. (bas/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id