Malang, SERU.co.id – Topeng Malangan tak hanya menjadi simbol budaya khas Malang, tetapi juga menjadi media pemberdayaan bagi anak-anak difabel. Sanggar Budaya Anak Nareswari membekali anak difabel membangun keterampilan membuat topeng yang dapat menjadi bekal kemandirian ekonomi di masa depan.
Pelatih kegiatan, Ndaru Lazarus mengungkapkan, pelatihan ini melibatkan 15 peserta, terdiri atas 11 anak dari Sanggar Budaya Anak Nareswari dan empat anak dari Kelurahan Bumiayu. Peserta yang merupakan anak dengan Down syndrome dan tunagrahita dikenalkan pada proses pembuatan topeng Malangan menggunakan resin.
“Seluruh tahapan dirancang sederhana dan aman, supaya bisa diikuti sesuai kemampuan motorik masing-masing peserta. Mereka mengikuti pelatihan dengan didampingi orang tua masing-masing,” seru Ndaru di sela-sela pelatihan di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel, (27/6/2026).
Ia menjelaskan, metode pembelajaran telah disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus. Sebelum resin dituangkan ke dalam cetakan, peserta terlebih dahulu menggunakan pelindung tangan berupa sarung plastik.
Salah satu panitia, Brelliane Semesta Pratiwi mengatakan, pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian program pemberdayaan yang berkelanjutan. Sebelumnya, peserta telah mengikuti pelatihan membatik sampur ramah difabel di bulan Mei lalu.
“Bukan ini mereka mengikuti pelatihan membuat topeng Malangan. Kemudian di bulan Juli nanti mereka akan mengikuti kegiatan mewarnai topeng,” ungkapnya.
Seluruh rangkaian akan ditutup melalui Festival Sendratasik Topeng Malangan pada 1 Agustus 2026 yang akan menampilkan parade tari, pertunjukan sendratari, dan bazar UMKM. Menurut Brelliane, program ini tidak hanya bertujuan melestarikan budaya lokal, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami ingin memberikan keterampilan yang punya nilai jual, sehingga bisa dipraktikkan secara mandiri di rumah. Hasil karya mereka nantinya juga akan dipamerkan di berbagai ruang publik,” jelasnya.
Program tersebut terlaksana melalui pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 kategori dukungan institusional lembaga kebudayaan. Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan melalui Program Dana Indonesiana, LPDP, serta Kementerian Keuangan.
“Keterbatasan bukanlah penghalang untuk anak-anak difabel berkarya. Seni bisa menjadi ruang ekspresi yang mampu menunjukkan potensi terbaik setiap anak,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, Sanggar Budaya Anak Nareswari berharap semakin banyak ruang berkesenian yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Topeng Malangan pun tak hanya menjadi warisan budaya. Tapi juga simbol kesetaraan, pemberdayaan dan kesempatan yang sama bagi setiap anak untuk tumbuh, berkarya dan berprestasi.
Sanggar Budaya Anak Nareswari yang berdiri sejak 2017 kini memiliki sekitar 50 anggota aktif dan bermitra dengan 27 lembaga pendamping anak berkebutuhan khusus di Malang Raya. Sanggar ini menjadikan seni budaya, khususnya Topeng Malangan, sebagai sarana mengembangkan kreativitas, meningkatkan kepercayaan diri, sekaligus membangun kemandirian anak-anak difabel. (bas/ono)









