​Rupiah Melemah Berkah Semu atau Peluang Nyata bagi Pariwisata Jawa Timur? Ini Kata DPD HPI Jatim

​Rupiah Melemah Berkah Semu atau Peluang Nyata bagi Pariwisata Jawa Timur? Ini Kata DPD HPI Jatim
Ketua DPD HPI Jatim, Sujai Asmed. (dok. pribadi)

​Surabaya, SERU.co.id – Lonjakan mata uang Dolar AS terhadap Rupiah menyentuh level tertinggi. Di satu sisi, melemahnya rupiah digadang-gadang menjadi angin segar yang membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi jauh lebih murah bagi turis asing.

Namun, dari kacamata praktisi lapangan khususnya para pemandu wisata yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPD Jawa Timur. Kondisi ini bagaikan pisau bermata dua. ​Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HPI Jawa Timur, Sujai Asmed mengungkapkan, fluktuasi kurs ini cukup membuat para pelaku industri di lapangan memutar otak.

Bacaan Lainnya

“Ada berkah, tetapi ada pula tantangan operasional nyata yang membayangi,” seru Sujai Asmed kepada SERU.co.id.

Sujai menyebutkan, ​memang secara teori, rupiah yang melemah membuat daya beli wisatawan mancanegara (Wisman) meningkat. Namun, dirinya juga mencatat adanya efek penyesuaian harga yang cepat di tingkat penyedia jasa berskala besar.

​”Secara hitungan dolar, Indonesia memang terlihat lebih murah. Namun di lapangan, ada kecenderungan akomodasi premium, agen perjalanan besar, dan paket wisata internasional langsung menyesuaikan tarif mereka mengikuti pergerakan dolar (dominant currency pricing). Akibatnya, gap keuntungan dari murahnya rupiah itu sering kali tergerus oleh penyesuaian harga lokal,” ungkap Bang Jai sapaannya.

​Selain itu, lanjut Sujai, dengan kondisi ini diakui biaya operasional pemandu wisata yang menangani tur internasional ikut terkerek. Terutama untuk komponen yang menggunakan standar pelayanan global. ​Jika pasar wisman masih harus berkompromi dengan penyesuaian harga global, HPI Jatim melihat keuntungan riil justru bergeser ke sektor pariwisata domestik.

“Melambungnya harga tiket pesawat luar negeri dan paket tur outbound (orang Indonesia ke luar negeri) membuat masyarakat lokal menahan diri untuk plesiran ke negara lain,” cetusnya.

Sujai menerangkan, ​kondisi ini dapat memicu lompatan besar pada pergerakan Wisatawan Nusantara (Wisnus) di dalam provinsi. HPI Jatim menangkap beberapa tren positif diantaranya terjadi lonjakan Wisata Overland melalui Jalur darat menjadi primadona baru. Rombongan keluarga, instansi, hingga komunitas beralih menggunakan bus pariwisata atau kendaraan pribadi untuk menjelajahi wisata di Jatim.

“Destinasi alternatif seperti Desa Wisata di kawasan Malang Raya (termasuk Kota Batu), Banyuwangi, hingga Pacitan mendapatkan limpahan kunjungan karena menawarkan biaya yang lebih rasional dengan pengalaman yang otentik,” imbuhnya.

Dengan kondisi ini pula, tambah Sujai, uang wisatawan domestik akan berputar langsung di ekosistem UMKM, pemandu lokal, pusat oleh-oleh, dan penginapan daerah. ​HPI Jatim juga mengingatkan bahwa para pelaku pariwisata tidak boleh terlena.

“Sisi lain dari penguatan dolar adalah pembengkakan biaya operasional di sektor hilir yang lambat laun bisa menekan margin keuntungan,” pungkas Owner Suramadu Trans ini. (dik/mzm)

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id