Ini Panduan Memilih Hewan Kurban Sehat dan Sah, Jangan Terkecoh!

Ini Panduan Memilih Hewan Kurban Sehat dan Sah, Jangan Terkecoh!
Ilustrasi memilih hewan kurban untuk Iduladha. (AI Generated)

Malang, SERU.co.id – Masyarakat mulai ramai berburu hewan kurban untuk disembelih menjelang Hari Raya Iduladha. Pakar peternakan dari UMM mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mempertimbangkan ukuran tubuh hewan saat membeli kurban. Kesehatan, kondisi fisik dan usia hewan harus dipastikan sesuai syariat agar sah dan daging aman dikonsumsi.

Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang, Lili Zalizar, mengingatkan masyarakat lebih teliti sebelum membeli hewan kurban. Ia menegaskan, kesehatan hewan harus menjadi prioritas utama.

Bacaan Lainnya

“Karena hal tersebut berkaitan dengan keabsahan ibadah sekaligus keamanan daging yang dikonsumsi,” seru Lili, dalam rilis yang diterima SERU.co.id, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan hewan sebenarnya bisa dilakukan secara sederhana. Salah satunya melalui pengamatan fisik langsung di lokasi penjualan. Langkah awal yang perlu diperhatikan ialah postur tubuh dan cara berdiri hewan.

“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Lili.

Ia menjelaskan, hewan yang mengalami cacat fisik seperti pincang tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat Islam. Karena itu, keseimbangan tubuh dan kondisi kaki menjadi salah satu indikator penting yang harus diperiksa calon pembeli.

“Masyarakat juga harus memperhatikan kondisi mata dan kulit hewan. Hewan yang sehat umumnya memiliki mata jernih dan tidak keruh. Adanya selaput putih atau gangguan penglihatan bisa menjadi tanda hewan mengalami masalah kesehatan,” tambahnya.

Sementara itu, kondisi kulit juga tidak boleh luput dari perhatian. Hewan kurban sebaiknya bebas dari penyakit kulit seperti kudis atau scabies.

“Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan. Karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” imbuhnya.

Lili juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penyakit menular berbahaya. Terutama yang dapat menyerang ternak, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Antraks.

“Hewan terindikasi PMK biasanya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut. Kemudian luka pada lidah dan gusi, serta radang di sela kuku kaki. Hewan yang terkena antraks dapat mengalami kejang disertai pendarahan dari hidung maupun anus,” tegasnya.

Selain memastikan kesehatan, calon pembeli juga dianjurkan memperhatikan nafsu makan dan tingkat keaktifan hewan. Hewan yang sehat umumnya aktif bergerak, lahap makan dan terlihat bugar. Masyarakat disarankan memilih hewan dengan tubuh gemuk tetapi tetap sehat.

Tak kalah penting, usia hewan kurban juga harus memenuhi ketentuan syariat. Dilansir dari NU Online, berikut syarat usia minimal hewan kurban:

  1. Sapi dan kerbau minimal berusia dua tahun.
  2. Domba minimal satu tahun atau sudah berganti gigi.
  3. Kambing minimal satu tahun lebih.
  4. Unta minimal lima tahun.

Dalam hadis diriwayatkan dari Al-Barra bin Azib, Rasulullah SAW menjelaskan, terdapat empat jenis hewan yang tidak sah dijadikan kurban. Yakni hewan buta, sakit, pincang dan terlalu kurus hingga tidak memiliki lemak.

Meski demikian, terdapat beberapa cacat yang masih ditoleransi. Seperti tanduk pecah atau hewan telah dikebiri. Sebaliknya, hewan dengan cacat yang mengurangi bagian tubuh seperti telinga atau ekor putus tetap tidak sah dijadikan kurban.

Lili turut mengingatkan, pentingnya memperhatikan kondisi hewan sebelum penyembelihan. Hewan yang baru menempuh perjalanan jauh sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu agar tidak mengalami stres.

“Kelelahan pada ternak dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry). Yakni kondisi ketika kualitas daging menurun karena teksturnya menjadi lebih gelap, keras dan kering,” urainya.

Dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menjelaskan, hewan kurban terbaik adalah hewan yang paling sempurna fisiknya. Kemudian paling sehat dan paling banyak manfaat dagingnya bagi penerima kurban.

Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan menjadi lebih cermat dalam memilih hewan kurban. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar tradisi tahunan. Namun juga bentuk kepedulian terhadap kualitas pangan dan nilai ibadah yang dijalankan sesuai syariat. (aan/mzm)

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id