CJH Termuda Kota Malang 16 Tahun, Tunaikan Pesan Terakhir Mendiang Ayah

CJH Termuda Kota Malang 16 Tahun, Tunaikan Pesan Terakhir Mendiang Ayah
CJH Termuda Kota Malang, Haidar Fattah Rizqy Santoso menceritakan pesan terakhir mendiang ayahnya, sembari menyiapkan barang-barang keperluan ibadah haji secara mandiri. (bas)

Malang, SERU.co.id – Calon Jemaah Haji (CJH) termuda di Kota Malang membagikan kisah hidupnya sampai menunaikan haji di usia belia 16; tahun. Haidar Fattah Rizqy Santoso menyampaikan, dirinya berhaji lantaran menunaikan pesan terakhir mendiang sang ayah.

Remaja yang akrab disapa Atta mengungkapkan, ia berangkat haji menggantikan sang ayah yang telah meninggal dunia. Sang ayah, sebelumnya telah berpesan untuk menggantikan ibadah haji bila dirinya meninggal dunia.

Bacaan Lainnya

“Tidak lama setelah Ayah meninggal, ada yang mengantar surat keberangkatan haji ke rumah. Lalu saya dan Bunda mengurus pelimpahan ke Kementerian Haji dan Umroh,” seru Atta, saat ditemui SERU.co.id di kediamannya, Selasa (21/4/2026).

Awalnya, keluarga sempat mengira batas usia minimal pelimpahan haji adalah 17 tahun. Namun, adanya aturan baru yang memperbolehkan usia minimal 13 tahun membuat proses pelimpahan bisa segera diajukan.

“Saya berangkat diniatkan untuk menghajikan (badal haji) ayah. Dulu, beliau berpesan kalau sewaktu-waktu meninggal, saya yang akan menggantikan,” ungkapnya.

Diakui Atta, sang Ayah selalu berpesan banyak hal sewaktu masih hidup. Selain haji, ayahnya kerap berpesan, supaya Atta bisa mandiri dan menggantikan peran ayah di rumah.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan dukungan dari pondok, mulai izin sampai persiapan manasik. Di Tanah Suci, saya ingin mendoakan Almarhum Ayah dan berdoa untuk masa depan saya. Termasuk kelancaran pendidikan di pondok sampai kuliah,” jelas remaja yang bersekolah di SMA Arrahmah Dau itu.

Terkait persiapan, ia rutin berolahraga dengan berlari setiap sore untuk menjaga kebugaran fisik. Sementara untuk persiapan spiritual, ia telah mendapatkan pembekalan manasik di pondok pesantren.

“Untuk fisik saya rutin lari, kalau manasik sudah diajarkan di pondok pesantren. Saya sudah siap berangkat, semua dokumen juga sudah saya lengkapi sebelum berangkat hari Rabu, 23 April 2026,” jelasnya.

Sementara sang Ibunda, May Syaroh Buchori menuturkan, proses pelimpahan berjalan cepat. Setelah pengurusan administrasi dan pemeriksaan kesehatan dilakukan, status keberangkatan langsung beralih ke nama sang anak.

“Alhamdulillah prosesnya cepat sekali, seperti dibukakan jalan. Setelah foto dan input data, langsung berubah atas nama anak,” ujarnya.

Ia mengatakan, dirinya bersama sang suami telah mendaftar haji sejak 2011. Namun, keberangkatan sempat tertunda akibat pandemi Covid-19.

“Setelah suami saya meninggal tanggal 25 Agustus, sekitar awal September kami mendapat panggilan berangkat. Saya berharap, semua diberi kelancaran mulai berangkat sampai pulang lagi ke Indonesia,” tandasnya. (bas/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id