Malang, SERU.co.id – Sekitar 1.200 sivitas akademika Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengikuti Halalbihalal dan pelepasan Calon Jemaah Haji 1447 H di Masjid Raya An-Nur, Selasa (31/3/2026). Uniknya, konsep salam-salaman Polinema dimulai dari pimpinan beserta jajarannya berkeliling dan menyalami bawahan.
Direktur Polinema, Ir Supriatna Adhisuwignjo ST MT mengungkapkan, dalam hubungan kerja dan aktivitas sehari-hari pasti terdapat kesalahan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sementara, saling memaafkan telah diajarkan oleh Rasulullah dalam hubungan antar manusia (hablun minannas).
“Sebagai pribadi maupun pimpinan Polinema, saya menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin. Semoga ke depannya, tercipta hubungan kerja yang lebih baik demi terciptanya tujuan bersama menjadikan Polinema sebagai Kampus Berdampak,” seru Supriatna, sapaan akrabnya dalam pidato sambutannya, Selasa (31/3/2026).
Disebutkannya, berbeda pendapat dalam diskusi hingga membangun komitmen merupakan hal yang wajar. Namun bagaimana hasil akhirnya adalah solusi untuk lebih baik dan mengembangkan Polinema menjadi Kampus Berdampak. Sebagaimana tema yang diusung ‘Mempererat Silaturahmi, Menguatkan Sinergi menuju Kampus Berdampak.’
Arti Kampus Berdampak adalah transformasi perguruan tinggi yang fokus pada kontribusi nyata, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Untuk memecahkan masalah sosial, ekonomi dan lingkungan.
“Bukan sekadar akademik, melainkan mengaplikasikan sains dan teknologi kampus dengan memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Sejalan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan visi Indonesia Emas 2045,” terangnya.
Dalam kesempatan itu, sebanyak 12 pasang calon jemaah haji dari dosen dan tendik Polinema secara resmi dilepas oleh Direktur Polinema beserta jajaran.
Usai pelepasan, dilanjutkan pemberian tauziah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ar Rozzaq, Slamparejo, Jabung, Kabupaten Malang, KH Dr Anas Fauzie SPd MdI. Dalam tauziahnya, KH Anas menyampaikan, manusia tempatnya khilaf, namun Allah SWT Maha Pengampun, maka seharusnya manusia juga bisa saling memaafkan.
“Manusia tempatnya khilaf, banyak orang bisa ngomong alias jarkoni, iso ujar ora iso nglakoni (bisa berkata tapi tak bisa melakukan, red). Ketika apa yang disampaikan ternyata memberikan manfaat, maka dia mendapatkan pahala. Tapi ketika ketahuan, bisa jadi orang lain menghujat, tapi di mata Allah tetap dicatat kebaikannya, dengan kata lain dimaafkan,” ucap penghulu yang sempat viral dengan petuah bijaknya ini.
Dalam Halalbiihalal tersebut, konsep salam-salaman Polinema sangat berbeda dengan pada umumnya. Jika pada umumnya para pimpinan berdiam di tempat, sementara bawahan yang berjalan berkeliling meminta maaf. Sebaliknya di Polinema, justru para pimpinan beserta jajarannya yang mendahului dan berkeliling menyalami bawahannya. (rhd)









