NATO Kerahkan Pasukan ke Greenland, Trump Tetap Ngotot Ingin Ambil Alih

NATO Kerahkan Pasukan ke Greenland, Trump Tetap Ngotot Ingin Ambil Alih
Greenland. (ist)

Jakarta, SERU.co.id – Ketegangan di kawasan Arktik meningkat setelah delapan negara NATO Eropa mengerahkan pasukan ke Greenland. Langkah tersebut muncul di tengah sikap keras Presiden Donald Trump ingin mengakuisisi pulau itu demi alasan keamanan nasional. Meski mendapat penolakan, Trump tetap membuka opsi penggunaan kekuatan militer.

Delapan negara NATO yang terlibat dalam pengerahan itu adalah Denmark, Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, dan Inggris. Namun, Gedung Putih menegaskan, kehadiran militer Eropa tidak akan mengubah pendirian Trump.

Bacaan Lainnya

“Pasukan Eropa tidak memengaruhi proses pengambilan keputusan presiden. Sama sekali tidak mengubah tujuannya untuk mengakuisisi Greenland,” seru juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dikutip Reuters, Jumat (16/1/2026).

Trump secara terbuka menyatakan, Greenland seharusnya berada di bawah kendali Amerika Serikat demi kepentingan keamanan nasional. Ia bahkan menolak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer jika cara diplomatik gagal.

“Jika kita tidak bisa melakukannya dengan cara mudah, kita akan melakukannya dengan cara yang keras,” ujar Trump.

Perselisihan antara Washington dan Kopenhagen semakin tajam setelah pertemuan tingkat tinggi di Gedung Putih gagal mencapai titik temu. Trump kembali menuding Denmark tidak mampu melindungi Greenland dari potensi ancaman Rusia dan China.

Sebaliknya, pemerintah Denmark dan otoritas Greenland menegaskan pulau tersebut tidak untuk dijual. Mereka menilai, ancaman penggunaan kekuatan oleh AS sebagai tindakan gegabah yang berpotensi merusak stabilitas kawasan.

Melalui media sosialnya, Trump juga menyerukan agar NATO mendukung ambisi strategis AS. Ia mengaitkan penguasaan Greenland dengan proyek sistem pertahanan rudal ambisius yang ia sebut “Golden Dome”.

“Kendali penuh AS atas wilayah Arktik akan membuat NATO jauh lebih kuat dan efektif. Terutama dalam menghadapi persaingan global di wilayah utara. NATO seharusnya memimpin jalan bagi kita untuk mendapatkannya,” ujar Trump, dilansir dari CNBC.

Ketegangan ini turut memicu reaksi dari Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova menilai, penggunaan narasi “ancaman Rusia dan China” sebagai dalih untuk meningkatkan ketegangan di Arktik merupakan tindakan tidak dapat diterima.

“Kami akan terus mempertahankan posisi kami di kawasan Arktik dan memperkuat kedaulatan nasional. Termasuk kemampuan pertahanan dan infrastruktur Jalur Laut Utara,” kata Zakharova.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jerman menegaskan, pengerahan personel NATO ke Greenland dilakukan atas undangan Denmark. Misi tersebut disebut sebagai operasi pengintaian dan eksplorasi. Khususnya untuk menilai kondisi keamanan di tengah meningkatnya aktivitas militer Rusia dan China di Arktik.

“Rusia dan China semakin menggunakan Arktik untuk tujuan militer. Membahayakan kebebasan transportasi, komunikasi, dan perdagangan,” ujar Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius.

Ia menegaskan, NATO akan terus menjunjung tatanan internasional berbasis aturan. Begitu juga pentingnya koordinasi erat antaranggota aliansi. Termasuk dengan Amerika Serikat, dalam misi bersama di Greenland.

Menurut Kementerian Pertahanan Jerman, misi tersebut bertujuan mengumpulkan informasi dasar. Yakni mengenai kondisi lokal yang relevan bagi peluang operasional dan pelatihan militer. (aan/mzm)

 

disclaimer

Pos terkait