Jakarta, SERU.co.id – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 jenjang SMA sederajat masih tergolong rendah, terutama pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat rata-rata nilai Bahasa Inggris Wajib hanya 24,93 dan Matematika Wajib 36,10. Kondisi ini dinilai menjadi alarm bagi dunia pendidikan nasional untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembelajaran.
Kepala Badan Standar, Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Toni Toharudin menegaskan, rendahnya capaian tersebut tidak dimaksudkan sebagai peringkat apalagi penentu kelulusan. Menurutnya, TKA berfungsi sebagai alat pemetaan kemampuan akademik siswa secara nasional. Khususnya untuk kepentingan evaluasi kebijakan dan perbaikan pembelajaran.
“Data ini menjadi cermin bersama. Dari sini kita bisa melihat di mana letak kelemahan pembelajaran. Dari sini kita tahu bagaimana intervensi harus dilakukan,” seru Toni, dikutip dari website Kemendikdasmen, Rabu (24/12/2025).
Rendahnya nilai TKA tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi sejumlah faktor struktural dan pedagogis. Pertama, kesenjangan kualitas pembelajaran antarwilayah masih cukup lebar. Akses terhadap guru berkualitas, sumber belajar dan fasilitas pendidikan belum merata, terutama di daerah nonperkotaan.
Kedua, metode pembelajaran di kelas dinilai masih belum sepenuhnya adaptif terhadap pendekatan berbasis kompetensi. Mata pelajaran seperti Matematika dan Bahasa Inggris menuntut kemampuan penalaran, literasi dan pemahaman konseptual.
Ketiga, TKA 2025 merupakan pelaksanaan perdana untuk jenjang SMA, SMK, MA dan Paket C. Banyak siswa belum sepenuhnya familiar dengan model asesmen yang mengukur pemahaman mendalam. Akibatnya jasilnya belum mencerminkan potensi maksimal peserta didik.
Meski demikian, terdapat mata pelajaran dengan capaian relatif lebih baik. Seperti Antropologi (70,43), Geografi (70,36) dan Bahasa Indonesia Lanjut (68,02). Hal ini menunjukkan capaian siswa sangat bergantung pada karakteristik mata pelajaran.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani menilai, hasil TKA 2025 sebagai peringatan keras bagi dunia pendidikan nasional. Ia menyoroti, rendahnya capaian Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran fundamental.
“Nilai Matematika dan Bahasa Inggris berada pada level mengkhawatirkan secara nasional. Ini harus dievaluasi secara objektif, baik dari sisi guru maupun siswa,” tegasnya.
Ia mendorong Kemendikdasmen agar tidak menjadikan TKA sekadar laporan statistik. Melainkan dasar penyusunan kebijakan konkret, mulai dari peningkatan kualitas guru, pembaruan metode pembelajaran, hingga penguatan kurikulum.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti menegaskan, TKA dirancang sebagai instrumen reflektif, bukan alat pelabelan. Hasil TKA berfungsi sebagai assessment of learning, assessment for learning dan assessment as learning yang saling melengkapi.
“TKA tidak menentukan kelulusan. Namun menjadi dasar untuk memperbaiki pembelajaran dan mendukung kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran,” ujar Mu’ti, dilansir dari website Kemendikdasmen.
Ke depan, Kemendikdasmen berencana mengintegrasikan TKA jenjang SD dan SMP dengan Asesmen Nasional (AN). Sebagai upaya membangun sistem evaluasi pendidikan yang berkelanjutan dan berbasis data.
Dengan demikian, rendahnya nilai TKA 2025 bukanlah akhir, melainkan titik awal pembenahan. Data ini menjadi pengingat peningkatan mutu pendidikan membutuhkan kerja bersama. Terutama dari guru, sekolah, pemerintah daerah, hingga pembuat kebijakan. (aan/mzm)








