Menjadi Orang Tua Cerdas di Era Digital

Menjadi Orang Tua Cerdas di Era Digital
Nuraini, M.Pd

Di era digital, sudah mafhum Android  menjadi “pengasuh” si buah  hati karena alasan kesibukan orang tua. Tidak jarang gadgets berperan sebagai babysitter sekaligus sahabat setiap saat bagi sikecil. Sebagian besar orang tua lebih bangga dan senang jika buah hati menjadi penurut diam di rumah, pakaian bersih. Android “mengakar” di tangan hingga berjam-jam bahkan seharian menghabiskan hari libur anak di kamar.

Para orang tua  lebih khawatir membiarkan si kecil bersosialisasi dengan sahabat nya di luar rumah, bermain pasir, peta umpet, main air, sedikit kotor, berkeringat dan berkejar-kejaran dengan canda riang bebas di dunia luar. “Ah itu anak jadi kotor,  susah diatur, bikin cape teriak-teriak mencari tiap jam makan tiba,” keluh sebagian Ortu.

Bacaan Lainnya

Tetapi setelah berbagai dampak yang mulai dirasakan para orang tua, gundah gulana dan kekhawatiran itu diluapkan oleh para orang tua saat  kami mengisi  forum-forum parenting di lembaga-lembaga pendidikan dan forum-forum Parenting di sekitar Bogor Raya.

Sudah mafhum di era milenium, segala hal berbasis digital. Kiranya orang tua tidak bijak melarang sepenuhnya si kecil menggunakan gawai sebagai salah satu sarana bermain dan belajar, tetapi lebih tidak bijak membebaskan si buah hati berinteraksi sepanjang waktu dengan Gadget.

Sehingga orang tua dituntut cerdas dan bijak memberikan porsi yang tepat bagi si kecil dalam penggunaan gadget,  baik dalam konteks brmain melalui media sosial  maupun belajar. Karena memang kehadiran technology tidak mungkin dihindari tetapi harus mampu berkolaborasi dalam konteks bermain dan belajar.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA salah seorang sahabat Nabi memberikan satu konsep penting dalam mendidik seorang Anak;

“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”.

Pernyataan tersebut memberikan pencerahan agar para Orang tua tidak Gaptek (gagap tehnologi) tetapi juga mampu bersinergi kolaborasi dengan Kemajuan Tehnologi.

Menurut Hikari Takeuchi, seorang profesor muda dari Tohoku University Jepang yang menulis Impact of Videogame Play on The Brain’s Microstructural Properties: Cross-sectional and Longitudinal Analyses yang dirujuk oleh Aric Sigman, seorang psikolog Amerika Serikat yang menulis tentang SDD, bermain games selama masa kanak-kanak dapat menyebabkan neuro adaptation (adaptasi saraf) dan neural structural changes (perubahan struktur di daerah saraf) yang terkait dengan kecanduan.

Hasil penelitian lain mencatat  dan menemukan 30% anak di bawah usia enam bulan sudah mengalami paparan gadget secara rutin dengan rata-rata 60 menit per hari.  Fakta diatas sangat miris dan menghawatirkan para Orang tua, sehingga menjadi pekerjaan besar para Orang untuk berperan dalam mengendalikan dan mengontrol penggunaan Android bagi si kecil.

Tanda-tanda Kecanduan Gadget

Beberapa tanda-tanda anak yang mengalami Syndrome  screen dependency disorder (gangguan ketergantungan terhadap layer gadget)   yang perlu diwaspadai oleh orang tua di antaranya adalah:

  1. Anak yang sibuk dengan gadget menjadi agresif atau pemarah jika tidak memegang gadget, anak menjadi tantrum bila gadget diambil darinya, anak menolak untuk berhenti bermain gadget meski orang tua telah memintanya berhenti memegang gadget, tidak tertarik bermain di luar rumah atau kegiatan ekstra di sekolah, tetap bermain gadget meski sudah mengetahui dampak negatifnya, memaksimalkan setiap kesempatan agar bisa bermain gadget lebih lama dan cenderung berbohong kepada orang tua dan menggunakan gadget untuk mengalihkan perhatian dan meminta waktu lebih untuk memegang gadget.
  2. Anak juga akan mengalami kurang tidur/susah tidur (insomnia) sehingga kemampuan untuk fokus sangat rendah. Anak pun cenderung tidur di siang hari dan terjaga di malam hari. Setiap penggunaan gadget selama 15 menit dapat mengurangi waktu tidur anak sekitar 60 menit.
  3. Dampak lain yang mengkhawatirkan adalah terjadinya speech delay (terlambat berbicara) pada anak.
  4. Mengalami masalah dalam tumbuh kembang fisik anak seperti berat badan turun atau justru naik dengan drastis.

5.Gangguan Kesehatan berupa  sakit kepala, kurang gizi, hingga masalah penglihatan dan masalah tumbuh kembang anak seperti kecemasan, perasaan kesepian, rasa bersalah, isolasi diri, dan perubahan mood yang drastis.

Untuk mengantisipasi gejala di atas, orang tua harus berupaya mengontrol/membatasi penggunaan Gadget anak melalui:

Pertama, sibukkan anak dengan kegiatan dan tidak menggunakan gadget selama mungkin  melakukan kegiatan tersebut. Anak-anak yang ketergantungan gadget disebabkan karena tidak ada kegiatan anak yang dapat dikerjakan. Karena tidak ada keadaan yang memaksa anak kita untuk melakukan sesuatu, maka timbul perasaan malas dan enggan untuk bergerak karena terbiasa tidak melakukan sesuatu.

Ketika anak mulai malas, anak hanya ingin melakukan kegiatan yang tidak harus berpindah atau bergerak misalnya bermain gadget. Hal ini dikarenakan anak merasa nyaman dengan keadaan seperti itu. Keadaan inilah yang bisa membuat anak kita ketergantungan kepada benda kecil dengan berjuta kesenangan.

Kedua, bersikaplah tegas dalam mendidik anak. Sikap tegas bisa dilakukan seperti dengan membekali anak dengan gadget lawas (jadul) yang tidak bisa mengakses internet, dan meng-uninstall aplikasi dan games yang membuat anak menjadi ketergantungan gadget.

Tidak bisa dipungkiri, jika memainkan games atau mengecek akun media sosial merupakan satu di antara hal yang menyenangkan. Namun, tunggu dulu, hal yang menyenangkan belum tentu bermanfaat.Semakin anak kita menyukai sebuah aplikasi, maka semakin besar kemungkinan anak kita akan terus membukanya, dan akibatnya anak menjadi ketergantungan pada gadget.

Untuk mencegah hal itu terjadi, kita bisa meng-uninstal aplikasi yang ada di gadget dengan tujuan agar keinginan anak kita untuk membuka dan mengambil gadget kita, bahkan tanpa sepengetahuan kita untuk membuka aplikasi tersebut bisa berkurang, karena telah dihapus dari gadget. Tidak adanya aplikasi tersebut, maka anak jadi tidak memiliki dorongan lagi untuk selalu berkutat pada gadget.

Terlepas dari dampak positif dan negative penggunaan gadget, sesungguhnya  orang tua memilki tanggung jawab besar terhadap keselamatan anak dan keluarga dari berbagai kerusakan yang mengarah pada kemaksiatan kepada Allah SWT.

Hal ini yang dingatkan oleh  Alloh dalam QS. At-tahrim :6; yang rtinya: Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (*)

Oleh: Nuraini, M.Pd.

Sekretaris Prodi Bimbingan Konseling Islam IUQI Bogor

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *