Batu, SERU.co.id – Buah stroberi menjadi salah satu hasil pertanian unggulan dari Kota Batu. Untuk meningkatkan produktivitasnya, petani stroberi di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berusaha menanam varietas yang unggul pula. Selain perawatannya yang relatif lebih mudah, tahan cuaca juga menjadi salah satu alasannya.
Salah satu petani stroberi dari Desa Pandanrejo, Inung Prayogi menjelaskan, saat ini petani stroberi di kawasan Pandanrejo mulai mencoba menanam stroberi jenis baru yaitu ‘mencir’. Varietas ini adalah hasil persilangan stroberi jenis festival dan California. Kelebihan dari varietas ini adalah buahnya besar, manis dan lebih tahan lama.
“Sudah setahun ini, saya menanam stroberi mencir, bibit awalnya dapat dari Bandung, karena hasilnya lebih bagus daripada jenis California. Saya juga mulai memproduksi bibit ini untuk dijual ke petani yang lain. Cara memperbanyak tanamannya adalah dengan sulur atau stolon,” seru Inung.
Inung menceritakan, sebelum petani beralih ke jenis mencir, ada beberapa jenis stroberi yang ditanam petani setempat. Di antaranya California, sweet charlie, holibred, earlibrite dan rosalinda. Karena mudah terserang penyakit, akhirnya stroberi jenis itu ditinggalkan
Baca juga : Cuaca Sering Berubah, Petani Stroberi di Batu Jadi Gundah
“Nah, kalo mencir ini baru. Sebelumnya jenis California yang lebih dulu ada, sekitar dua tahun lalu masih ada ditanam disini. Tapi sekarang udah enggak ada, soale penyakiten & akhire mati,” bebernya.
Nama penyakit itu, yaitu layu fusarium. Dulu jenis sweet Charlie, holibred, earlibrite dan rosalinda yang jadi primadona petani, tapi karena jenis ini tak tahan penyakit layu, sehingga sekarang tak ada yang tanam.

Lebih detail dijelaskan, tanaman stroberi yang sulurnya (stolon/geragih) menyentuh tanah, akan mengeluarkan akar yang kemudian ditanamkan pada media polybag lain di sebelahnya. Dan setelah menunggu dua minggu, kedua tanaman sudah bisa dipisahkan. Dua bulan kemudian, tanaman baru di polybag ini sudah bisa berbuah.
“Kalau pakai cara lama, batang pohon stroberi dipotong-potong kemudian dimasukkan ke beberapa polybag. Tapi baru dua bulan lagi tanaman itu akan kelihatan pertumbuhannya. Makanya, dengan cara Sulur atau stolon ini, petani lebih diuntungkan karena produktivitasnya akan lebih cepat,” imbuhnya.
Inung juga bercerita, dulu di Kota Batu ada satu jenis tanaman buah stroberi lokal yang terbilang istimewa. Namun, dikarenakan keterbatasan pengetahuan saat itu, petani tidak mampu mempertahankannya, sehingga ‘punah’.
“Kalau dulu itu ada jenis buah stroberi lokal Batu, kalau dari kejauhan aroma khas stroberinya sudah tercium wanginya, Fragaria ananassa nama latinnya. Jenis itu saya sudah jarang ditemukan lagi, mungkin karena dulu pengetahuannya petani kurang, jadi lama-lama sulit dijumpai,” pungkasnya. (ws3/rhd)
BACA JUGA :
- Strategi Entaskan Kemiskinan, Pemkab Jember Siapkan Kolaborasi Perhutanan Sosial Lewat Skema IAD
- CIMB Niaga Resmikan Syariah Digital Branch Dukung Ekosistem Halal di Malang Raya
- Tutup KCS 39, SMK PGRI 3 Malang Kukuhkan 987 Siswa Baru Skariga
- Ustazah Nia Hajar Ternyata Sosok AI, Begini Respons Berbagai Pakar
- Mengapa Rumah Jampidsus Dijaga TNI di Tengah Penyidikan Kasus Korupsi Besar?









